Prosedur bedah pemulihan jantung kini mengalami pembaruan lewat pendekatan medis yang meminimalkan luka sayatan pada tubuh pasien. Dilansir dari Detik Health, teknik Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) hadir sebagai opsi mutakhir untuk tindakan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) atau bypass jantung.
Langkah bypass jantung sendiri diterapkan demi memulihkan pasokan darah ke organ jantung akibat penyumbatan pembuluh darah koroner. Sumbatan tersebut umumnya dipicu oleh penumpukan plak atau aterosklerosis yang memicu ancaman serangan jantung fatal.
Dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular Siloam Heart Hospital, dr Heston G B Napitupulu, Sp.BTKV (K) MARS, menjelaskan bahwa bypass merupakan standar utama penanganan kasus jantung kompleks. Dalam prosesnya, dokter mengambil pembuluh darah sehat dari kaki atau dinding dada pasien untuk dipasang melewati titik penyumbatan.
"Jadi nanti kami mengambil pembuluh darah bisa dari kaki, bisa dari dinding dada dan kami sambungkan di jantung melewati pembuluh darah yang tersumbat," kata dr Heston di sela-sela Siloam Cardiac Summit 2026, di Jakarta Selatan, Sabtu (25/4/2026).
Menurut dr Heston, metode CABG saat ini terbagi menjadi dua opsi utama bagi pasien. Pilihan pertama menerapkan pemotongan dinding dada atau sternotomi, sedangkan metode kedua menggunakan pendekatan minimal invasif lewat MICS.
Penerapan MICS memerlukan pemenuhan sejumlah indikasi medis khusus pada kondisi fisik pasien. Kriteria utama mencakup pasien yang murni mengidap penyakit jantung koroner tanpa adanya komplikasi penyakit organ jantung lainnya.
"Jika pasien itu hanya menderita penyakit jantung koroner, tidak ada penyakit lain. Misalnya penyakit jantung koroner dan katup. Kami melakukan tindakan sternotomi, sehingga dua penyakit tersebut bisa kami obati secara bersama-sama," papar dr Heston.
"Kedua, misalnya pada pasien yang memiliki kelainan bentuk tulang dada, sehingga sulit dilakukan sternotomi, kami bisa melakukannya dengan tindakan dari samping," sambungnya.
Aspek estetika tubuh juga menjadi faktor pertimbangan pemilihan MICS oleh tim medis. Lokasi sayatan operasi yang berada di area samping tubuh membuat bekas luka menjadi lebih samar dan tidak terlalu mencolok.
"Berikutnya, tindakan ini juga kami lakukan pada pasien-pasien dengan kelainan atau penyakit pembuluh darah yang tidak terlalu kompleks, sehingga tujuan dari operasi ini, hasil harus sama (MICS dan sternotomi)," katanya.
Catatan medis di Siloam Heart Hospital menunjukkan angka keberhasilan tindakan CABG mencapai 98,8 persen. Keunggulan MICS tidak hanya terletak pada estetika kosmetik bekas luka, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi waktu pemulihan.
"Lama perawatannya mungkin bisa 4 hari, 5 hari. Kemudian juga lebih sedikit kami melakukan tindakan intervensi. Jadi hanya sedikit yang dibuka, sehingga kami harapkan risiko pasca operasi jadi lebih minimal," katanya.
Fasilitas Siloam Heart Hospitals kini mengantongi predikat Chest Pain Ready Hospital (CPRH) untuk merespons kasus kedaruratan secara cepat. Protokol penanganan meliputi pemeriksaan EKG darurat di bawah 10 menit serta kesiapan operasional Cath Lab komprehensif selama 24 jam penuh.
Prinsip penanganan mengutamakan efisiensi waktu demi meminimalkan kerusakan permanen pada struktur otot jantung pasien. Masyarakat diarahkan segera menghubungi pusat panggilan darurat Siloam di nomor 1500911 apabila mendeteksi munculnya gejala nyeri dada yang intens.