Dua kapal tanker super milik Iran, DERYA dan HUGE, dilaporkan berhasil memasuki perairan Indonesia menuju Kepulauan Riau setelah lolos dari pengawasan ketat Angkatan Laut Amerika Serikat. Kedua kapal tersebut mengangkut muatan minyak mentah dalam jumlah besar di tengah ketegangan maritim yang meningkat.
Dilansir dari Suara, firma pemantau pengiriman minyak internasional TankerTrackers.com mendeteksi kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama DERYA sedang melintasi Selat Lombok. Kapal ini diketahui membawa muatan sekitar 1,88 juta barel minyak mentah asal Iran.
"Kami kemudian melihatnya terus bergerak ke arah selatan setelah kejadian itu, di saat kapal-kapal sejenis di area tersebut diperintahkan kembali ke Iran oleh Angkatan Laut AS. DERYA saat ini sedang dalam perjalanan menuju titik pertemuan (rendezvous) di Kepulauan Riau," tulis laporan TankerTrackers.com.
Sebelum menuju Indonesia, DERYA sempat dilaporkan gagal melakukan pengiriman minyak ke India pada pertengahan April lalu. Selain DERYA, kapal tanker super HUGE juga terdeteksi mengarah ke tujuan yang sama dengan muatan mencapai 1,9 juta barel minyak.
Data statistik menunjukkan sebanyak 25 kapal tanker telah berangkat dari pelabuhan Iran sepanjang bulan April. Meskipun terdapat tekanan dari US Navy yang menyebabkan tujuh kapal berbalik arah dan dua kapal disita, mayoritas armada lainnya tetap berhasil mencapai lokasi pertemuan yang direncanakan.
Pergerakan armada ini terjadi di tengah pergeseran strategi militer Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melalui program "Project Freedom". Analis intelijen Jonathan Hackett menyebutkan bahwa tujuan Washington kini lebih berfokus pada hasil ekonomi di Selat Hormuz.
"Pada awal konflik ini, tujuan yang dinyatakan adalah perubahan rezim dan pembongkaran sistem rudal balistik serta nuklir Iran," ujar Hackett, pensiun spesialis operasi khusus Korps Marinir AS dalam wawancaranya dengan Al Jazeera.
Strategi baru ini dinilai sebagai langkah pragmatis untuk menghindari konflik militer berskala besar yang lebih ekstrem. Fokus pada sektor ekonomi dianggap menjadi jalan keluar yang lebih mudah bagi pihak Amerika Serikat saat ini.
"Target utama tersebut telah bergeser selama 60 hari terakhir menuju hasil ekonomi yang lebih fokus pada Selat Hormuz. Tampaknya, ini adalah hasil yang lebih mungkin dicapai dan menjadi jalan keluar (off-ramp) yang lebih mudah bagi Amerika Serikat," tambah Hackett.
Meskipun Presiden Trump membingkai operasi tersebut sebagai misi kemanusiaan, terdapat kekhawatiran mengenai kriteria bantuan bagi kapal-kapal dari negara yang tidak berhubungan baik dengan AS. Situasi ini menambah kerumitan dimensi diplomatik di wilayah konflik.
"Trump mendeskripsikan ini sebagai operasi kemanusiaan, jadi perlu ada tolok ukur mengenai seberapa lama orang-orang terjebak di sana dan seberapa sedikit pasokan makanan serta air yang mereka miliki," kata Hackett.
Ketegangan ini diprediksi akan memengaruhi kalkulasi risiko perusahaan asuransi pelayaran internasional dan stabilitas pasar energi. Saat ini, harga minyak dunia terpantau bertahan di kisaran angka US$ 110 per barel.