Bencana tanah bergerak melanda kawasan Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang mengakibatkan kerusakan pada empat unit rumah warga serta memutus akses jalan penghubung antardesa pada Jumat (24/4/2026).
Dilansir dari Kompas, fenomena geologi ini juga memaksa sedikitnya 12 warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman sejak satu pekan terakhir. Pergerakan tanah tersebut berdampak signifikan terhadap mobilitas penduduk karena kerusakan jalan utama yang menghambat aktivitas ekonomi dan sosial di wilayah tersebut.
Camat Sukaresmi, Azis Muslim menyatakan bahwa penanganan darurat telah dilakukan oleh personel gabungan dari TNI, Polri, dan unsur masyarakat. Upaya gotong royong ini difokuskan pada pembersihan material longsor agar jalur transportasi bisa segera pulih kembali, di mana saat ini kendaraan roda dua dilaporkan sudah mulai bisa melintas.
"Kejadian tersebut sudah kami laporkan ke Pemkab Cianjur dan BPBD Cianjur agar segera mendapat penanganan," kata Azis Muslim, Camat Sukaresmi.
Pemerintah setempat terus memantau kondisi di lapangan mengingat curah hujan yang masih tinggi dapat memicu pergerakan tanah susulan di lokasi terdampak. Warga yang berada di pengungsian diminta untuk tidak kembali ke rumah masing-masing selama kondisi cuaca belum stabil.
"Warga yang mengungsi ke rumah saudaranya diminta untuk bertahan karena cuaca ekstrem masih terjadi," katanya.
Azis juga menekankan pentingnya kewaspadaan mandiri bagi masyarakat yang tinggal di zona rawan. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus ditingkatkan untuk memastikan langkah mitigasi berjalan efektif selama masa darurat ini.
Ia juga mengimbau agar warga meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan agar segera mengungsi ketika melihat tanda alam akan terjadi bencana.
Kepala Desa Rawabelut, Syarif Hidayat merinci bahwa titik kerusakan bangunan terpusat di tiga lokasi, yakni Kampung Cipeteuy, Kampung Gunung Hawu, dan Kampung Lembur Kandang. Karakteristik wilayah Desa Rawabelut memang dikenal sebagai zona merah rawan longsor, terutama saat memasuki musim penghujan dengan intensitas tinggi.
"Pergeseran tanah terjadi hampir setiap tahun terutama saat cuaca ekstrem, sehingga perlu penanganan serius agar tidak semakin membahayakan warga," katanya.
Saat ini, petugas gabungan masih bersiaga di lokasi kejadian untuk mengantisipasi potensi longsor susulan yang mengancam pemukiman warga sekitar. Fokus utama petugas adalah memastikan keselamatan jiwa penduduk dan menjaga aksesibilitas jalan desa agar tetap dapat dilalui oleh bantuan logistik.