Surplus neraca perdagangan barang Indonesia pada periode Januari hingga Maret 2026 tercatat sebesar US$5,55 miliar, mengalami penyusutan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh tekanan ganda pada sektor migas dan nonmigas di tengah perlambatan kinerja mitra dagang utama.
Data tersebut dilansir dari Ekonomi berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (4/5/2026). Capaian ini menunjukkan penurunan drastis sebesar US$5,36 miliar jika dibandingkan dengan surplus pada kuartal pertama 2025 yang mampu menyentuh angka US$10,91 miliar.
"Sepanjang Januari-Maret 2026, neraca perdagangan barang Indonesia surplus sebesar US$5,55 miliar," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).
Penyusutan neraca perdagangan secara kumulatif merupakan dampak dari melemahnya kinerja ekspor yang dibarengi dengan tekanan impor, khususnya pada komoditas energi. Ketergantungan terhadap pasar tertentu serta fluktuasi harga komoditas global mempersempit ruang ekspansi sektor nonmigas.
"Sepanjang Januari-Maret 2026 ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar US$10,63 miliar, sedangkan komoditas migas defisit US$5,08 miliar," ujar Ateng Hartono.
Secara bulanan, kinerja perdagangan pada Maret 2026 sebenarnya masih mencatat tren positif dengan surplus mencapai US$3,32 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perolehan pada Februari 2026 yang hanya sebesar US$1,27 miliar, meskipun tren jangka panjang sejak Agustus 2025 menunjukkan volatilitas tinggi.
| Mitra Dagang | Status | Nilai (US$) |
|---|---|---|
| Amerika Serikat (Nonmigas) | Surplus | 5,06 miliar |
| Kawasan Asean | Surplus | 2,92 miliar |
| Tiongkok (Nonmigas) | Defisit | 5,52 miliar |
| Australia (Nonmigas) | Defisit | 2,38 miliar |
| Singapura | Defisit | 1,90 miliar |
| Prancis | Defisit | 0,63 miliar |
Defisit dengan China tercatat semakin melebar dari US$4,23 miliar menjadi US$5,18 miliar, sementara defisit dengan Australia melonjak tajam dari US$1,08 miliar menjadi US$2,50 miliar. Kondisi ini memperlihatkan kerentanan struktur perdagangan Indonesia terhadap dinamika permintaan dari negara-negara mitra utama.