Suhu Udara Jabodetabek Tembus 36 Derajat Celsius pada April 2026

Suhu Udara Jabodetabek Tembus 36 Derajat Celsius pada April 2026
Foto: Ilustrasi Suhu Udara Jabodetabek Tembus 36 Derajat Celsius pada April 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan suhu udara di wilayah Jabodetabek mencapai angka 35 hingga 36 derajat Celsius pada Senin, 27 April 2026. Kondisi cuaca terik ini dipicu oleh posisi semu matahari yang berada di sekitar garis khatulistiwa.

Data pengamatan menunjukkan titik suhu tertinggi terkonsentrasi di wilayah Jakarta Utara dan sekitarnya. Fenomena ini menyebabkan masyarakat mengeluhkan cuaca yang terasa jauh lebih panas dibandingkan hari-hari biasanya, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

"Dalam beberapa hari terakhir di pertengahan April tahun 2026 ini, sebagian besar wilayah Jabodetabek mengalami kondisi cuaca cerah dengan suhu udara yang cukup terik terutama pada siang hari. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu terukur tertinggi di wilayah Jabodetabek tercatat mencapai 35-36┬░C di wilayah Jakarta Utara dan sekitarnya," demikian konfirmasi Rira Damanik, Prakirawan Cuaca BMKG.

Kenaikan suhu ini diprediksi akan terus berlangsung hingga awal bulan depan. Wilayah Indonesia di bagian selatan ekuator disebut menjadi area yang paling merasakan dampak dari paparan panas sinar matahari tersebut.

"Kondisi cuaca panas dan terik dengan kisaran suhu tersebut diprediksi masih dapat terjadi hingga awal Mei mendatang, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator yang merasakan dampak paling signifikan," kata Rira Damanik, Prakirawan Cuaca BMKG.

Selain faktor posisi matahari, jarangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari turut memperparah intensitas panas. Hal ini diperkuat dengan adanya dominasi angin timuran dari Benua Australia yang membawa massa udara bersifat kering ke wilayah Indonesia.

"Selain itu, jarangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari serta dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat relatif kering turut memicu kurangnya pembentukan awan di wilayah selatan khatulistiwa, sehingga penyinaran permukaan bumi menjadi sangat intensif," lanjut Rira Damanik, Prakirawan Cuaca BMKG.

Masyarakat kini diimbau untuk mewaspadai potensi gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem. Risiko dehidrasi hingga kelelahan akibat panas menjadi perhatian utama otoritas cuaca bagi warga yang tetap beraktivitas di luar ruangan.

"Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, karena paparan panas yang ekstrem ini berisiko menimbulkan masalah kesehatan serius seperti dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat stress), hingga risiko gangguan pernapasan akibat polusi udara yang cenderung meningkat saat kondisi kering," jelas Rira Damanik, Prakirawan Cuaca BMKG.

Penggunaan alat pelindung diri serta menjaga asupan cairan tubuh menjadi langkah preventif yang sangat disarankan. Warga juga diminta untuk membatasi aktivitas fisik yang berat saat matahari berada pada posisi puncaknya di siang hari.

"Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk selalu menjaga kondisi tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik, menggunakan penutup kepala atau pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi kontak langsung dengan sinar matahari pada jam-jam puncak," pungkas Rira Damanik, Prakirawan Cuaca BMKG.

Artikel terkait

Rekomendasi