Suhu Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi Global

Suhu Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi Global
Foto: Ilustrasi Suhu Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi Global.

Penelitian University of Florida yang dirilis pada Rabu (15/4/2026) mengungkapkan bahwa tanaman padi terancam gagal tumbuh akibat lonjakan suhu ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim global di wilayah tropis. Studi tersebut mengombinasikan data arkeologi dan iklim modern untuk memetakan ambang batas toleransi panas tanaman pangan utama dunia ini.

Data tersebut menunjukkan bahwa padi jarang dapat tumbuh subur apabila suhu rata-rata tahunan meningkat di atas 28 derajat Celsius. Dilansir dari Lestari, penurunan hasil panen mulai terjadi ketika suhu melewati 33 derajat Celsius selama masa tanam karena gangguan pada proses pembuahan serbuk sari.

Tanaman padi dilaporkan akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup sepenuhnya jika terpapar panas ekstrem yang mendekati angka 40 derajat Celsius. Pemimpin penelitian tersebut, Nicolas Gauthier, memberikan penegasan mengenai keterbatasan fisik tanaman dalam menghadapi gelombang panas yang terlalu tinggi.

"Tanaman tidak bisa menyesuaikan diri dengan suhu yang terlalu panas, karena pada titik tertentu, fisik tanaman tersebut akan benar-benar berhenti berfungsi," kata Nicolas Gauthier, pemimpin penelitian tersebut.

Gauthier menjelaskan bahwa proses penyesuaian terhadap pergeseran suhu yang masif ini memerlukan upaya yang sengaja dan memakan biaya yang tidak sedikit bagi para petani di masa depan.

"Perubahan ini akan sangat mengganggu, dan proses penyesuaian diri itu tidaklah mudah atau murah. Hal ini harus dilakukan dengan sengaja dan mungkin akan terasa sulit," kata Gauthier.

Wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara diprediksi akan menghadapi kondisi pemanasan yang meluas, dengan potensi perluasan wilayah bersuhu di atas 28 derajat Celsius hingga 30 kali lipat pada akhir abad ini. Indonesia dan Malaysia disebut sebagai negara yang akan menerima dampak paling parah dari fenomena iklim tersebut.

"Wilayah di selatan, seperti Indonesia dan Malaysia, adalah yang akan terkena dampak paling parah, dan proses adaptasi ini berisiko meninggalkan banyak orang," tambah Gauthier.

Ia menyoroti ketimpangan akses terhadap inovasi pertanian, di mana petani kecil yang bergantung pada padi belum tentu memiliki kemampuan untuk mendapatkan bibit jenis baru yang tahan panas.

"Mereka yang saat ini bergantung pada padi untuk menyambung hidup, belum tentu menjadi orang-orang yang bisa mendapatkan akses ke benih jenis baru yang sedang dikembangkan," terangnya lagi.

Meskipun ada opsi untuk memindahkan lokasi lahan pertanian ke daerah yang lebih sejuk, langkah tersebut dinilai tidak mampu menutupi kerugian panen di wilayah tropis yang padat penduduk. Gauthier mengandaikan kemungkinan pergeseran dominasi produksi padi ke wilayah utara di masa mendatang.

"Secara keseluruhan, bisa saja semua padi yang tidak bisa lagi tumbuh di Asia Tenggara nantinya akan ditanam di China sebagai penggantinya," kata Gauthier.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan iklim mendorong batas kemampuan alami padi lebih cepat daripada proses adaptasi yang ada. Hal ini memberikan tekanan besar pada masyarakat di Asia Tenggara yang secara historis bergantung pada budidaya padi.

"Tetapi hal itu tidak mengubah dampak bagi masyarakat di Asia Tenggara yang tidak bisa begitu saja mulai menanam tanaman baru dari nol," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi