Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Selatan melakukan pemeriksaan terhadap saluran air di area rel kereta kawasan Bintaro pada Sabtu (9/5/2026). Langkah ini diambil setelah adanya laporan warga mengenai penumpukan sampah dan lumpur yang memicu genangan saat hujan deras.
Kondisi drainase yang tersumbat tersebut sebelumnya sempat mengganggu operasional KRL Greenline antara Stasiun Pondok Ranji dan Stasiun Kebayoran pada Senin (4/5/2026). Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, tumpukan sedimen di bawah rel kereta api dinilai menjadi penyebab utama meluapnya air.
Kepala Sudin SDA Jakarta Selatan, Santo, memberikan penegasan bahwa timnya segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan secara langsung. Penanganan teknis akan disesuaikan dengan temuan petugas di lapangan terkait kondisi saluran tersebut.
"Coba nanti dicek ke lapangan terlebih dahulu, kalau memang banyak sedimen atau sampah nanti dilakukan pengurasan," kata Santo dihubungi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (9/5/2026).
Seorang warga setempat bernama Geri mengungkapkan bahwa dimensi saluran air di samping dan bawah rel saat ini sudah sangat dangkal. Hal tersebut menyebabkan aliran air sangat rentan tersumbat meski hanya oleh satu benda padat yang melintang.
"Itu kalau ada kayu aja satu, sudah tuh, mampet. Memang harus dikomplain itu, dangkal banget, banyak sampahnya," kata Geri ditemui di lokasi, Sabtu.
Selain masalah pendangkalan, hilangnya area resapan air di wilayah Bintaro juga memperparah dampak banjir ke pemukiman penduduk. Transformasi lahan rawa menjadi bangunan permanen membuat air tertahan lebih lama sebelum mencapai hilir.
"Karena kan penampungannya (air) sudah enggak ada. Kayak dulu kan ada sawah, ada empang, sekarang sudah enggak ada," kata warga, Romlah ditemui di rumahnya.