Studi LPEM FEB UI Menilai AdaKami Berpotensi Sumbang PDB Rp10,96 Triliun

Studi LPEM FEB UI Menilai AdaKami Berpotensi Sumbang PDB Rp10,96 Triliun
Foto: Ilustrasi Studi LPEM FEB UI Menilai AdaKami Berpotensi Sumbang PDB Rp10,96 Triliun.

Potensi kontribusi ekonomi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dihasilkan oleh sektor pinjaman daring AdaKami pada tahun 2024. Industri ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sejak tahun 2015 karena dipicu oleh besarnya permintaan dari masyarakat.

Dikutip dari Investortrust, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyampaikan data tersebut dalam riset dampak sosial ekonomi.

ÔÇ£Pindar AdaKami memberikan kontribusi ekonomi terhadap PDB hingga Rp 10,96 triliun pada tahun 2024. Kontribusi potensi penyaluran pinjaman itu sekitar Rp 6,95 sampai Rp 10,96 triliun di tahun 2024 atau setara 0,031 sampai 0,049% PDB pada tahun 2024,ÔÇØ ujar Prani Sastiono dalam acara Diseminasi Hasil Studi Dampak Fintech Lending terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Indonesia: Studi Kasus AdaKami di Auditorium MPKP FEB UI, Jakarta, Rabu (24/2/2026).

Efek berganda dari penyaluran dana memicu perputaran ekonomi lokal di berbagai sektor industri riil. Pembiayaan konsumsi ini menjadi penggerak utama bagi permintaan barang dan jasa produktif.

Catatan dari LPEM FEB UI menunjukkan ada 185 sektor ekonomi nasional yang merasakan nilai tambah dari aktivitas pendanaan ini. Tiga sektor utama yang menerima dampak terbesar meliputi jasa lembaga keuangan lainnya sebesar 21,34 persen, jasa pendidikan pemerintah sebanyak 10,03 persen, dan perdagangan selain mobil dan sepeda motor sebesar 9,30 persen.

Nilai total kontribusi ekonomi tersebut setara dengan PDB negara Tonga yang menyentuh angka US$ 558 juta pada tahun 2024. Selain memacu PDB, penyaluran dana ini juga menciptakan lapangan kerja baru untuk 47.000 hingga 78.000 tenaga kerja di 17 sektor industri.

Penyerapan tenaga kerja terbesar berada di sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi 19,84 persen. Sektor ekonomi lain yang ikut menyerap pekerja adalah jasa pendidikan sebesar 18,63 persen, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mencapai 15,11 persen.

Wakil Kepala LPEM FEB UI Mohamad Dian Revindo menilai perputaran dana ini menciptakan efek riak melalui penguatan konsumsi rumah tangga secara rutin maupun non-rutin. Aktivitas tersebut otomatis menggerakkan sektor grosir, ritel, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer.

"With thus, dukungan terhadap sektor ekonomi riil terjadi melalui penguatan permintaan barang dan jasa produktif yang memicu aktivitas ekonomi dan produksi, setidaknya dalam jangka pendek," ungkap Dian.

Chief of Public Affairs AdaKami Karissa Sjawaldy menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menyediakan solusi keuangan yang inklusif sekaligus bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

ÔÇ£Kami percaya bahwa akses pembiayaan yang inklusif dan dikelola secara prudent serta bertanggung jawab dapat membawa manfaat yang luas bagi masyarakat," kata Karissa.

Dampak positif dari aktivitas pembiayaan ini mendorong manajemen untuk meningkatkan program literasi keuangan bagi pengguna. Pendanaan yang disalurkan diharapkan mampu menjaga daya tahan masyarakat dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi