Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa angka obesitas di kalangan anak sekolah serta remaja mengalami peningkatan di hampir seluruh negara dalam periode tahun 1980 hingga 2024. Kendati demikian, laju pertambahan bobot tubuh berlebih tersebut kini memperlihatkan perbedaan yang signifikan pada masing-masing wilayah.
Berdasarkan studi baru yang dimuat dalam jurnal Nature pada 13 Mei 2026, fenomena obesitas pada kelompok anak-anak serta remaja tidak lagi melaju dengan kecepatan yang sama secara global. Hal ini menandai adanya pergeseran pola penyebaran masalah kesehatan tersebut di berbagai belahan dunia.
Seperti dikutip dari Lestari, data menunjukkan bahwa lonjakan obesitas di kalangan generasi muda telah mengalami perlambatan, mencapai titik stabil, atau bahkan memperlihatkan sedikit penurunan di sejumlah negara berpenghasilan tinggi.
Kondisi sebaliknya justru melanda wilayah-wilayah dengan pendapatan rendah dan menengah. Angka obesitas di sebagian besar kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, serta Kepulauan Pasifik terus merangkak naik, bahkan dalam beberapa kasus terjadi secara masif.
Riset berskala global ini mengukur perkembangan tren obesitas dari tahun 1980 sampai 2024 dengan mengandalkan basis data dari 4.050 studi kemasyarakatan. Secara keseluruhan, penelitian melibatkan 232 juta partisipan yang berusia lima tahun ke atas di 200 negara dan wilayah.
Para ahli melacak pola penyebaran ini menggunakan indikator khusus yang dinamakan velocity. Ukuran kuantitatif tersebut berfungsi memperlihatkan pergeseran angka obesitas tahunan dalam satuan persen pada setiap tahunnya.
Hasil analisis membuktikan bahwa kasus obesitas pada era modern jauh lebih kerap ditemukan di seluruh dunia apabila dibandingkan dengan situasi pada pengujung abad ke-20. Semenjak dekade 1990-an, akselerasi penambahan penderita obesitas ini sudah kerap dikategorikan sebagai epidemi.
Walakin, dokumentasi terdahulu umumnya sekadar membandingkan total kasus penambahan obesitas dari periode dekade ke dekade. Laporan lama belum menguji secara saksama mengenai bagaimana dinamika tren tersebut berjalan dalam interval waktu yang lebih pendek di tiap negara.
Demi menangkap fenomena ini secara lebih akurat, para ilmuwan mengalkulasi rasio pertumbuhan obesitas tahunan secara terpisah. Pembagian kelompok dilakukan secara spesifik untuk kategori anak-anak, remaja, hingga populasi dewasa.
Kriteria obesitas bagi kelompok dewasa ditetapkan lewat ambang batas Indeks Massa Tubuh (IMT atau BMI) pada angka 30 kilogram per meter persegi atau lebih. Sementara itu, parameter untuk anak-anak serta remaja merujuk pada standar baku pertumbuhan milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Tren Melambat di Negara Makmur
Rekam jejak medis menunjukkan adanya penambahan kasus obesitas anak sekolah dan remaja di hampir seluruh wilayah yang diobservasi sepanjang kurun waktu 1980 hingga 2024.
Persentase kenaikan terpantau bergerak di kisaran 0,6 hingga 27 persen pada populasi anak perempuan. Sementara pada kelompok anak laki-laki, grafik lonjakan berada di rentang antara 0,4 hingga 35 persen, meski kecepatannya bervariasi antarwilayah.
Pada mayoritas negara maju yang terletak di Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australasia, termasuk Jepang serta Taiwan, akselerasi obesitas anak didominasi oleh riwayat kasus sebelum tahun 2000.
Memasuki periode setelah tahun tersebut, ritme pertambahan kasus melorot secara tajam, memperlihatkan tren mendatar, atau bahkan menunjukkan indikasi penurunan di beberapa wilayah tertentu.
Negara-negara maju layaknya Denmark, Prancis, Swiss, dan Belanda menorehkan statistik penambahan tahunan yang amat rendah, bahkan menyentuh angka mendekati nol selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Lebih lanjut, pertumbuhan angka obesitas di beberapa negara Eropa lain, seperti Prancis, Italia, dan Portugal, diindikasikan telah memperlihatkan tren yang perlahan-lahan menurun.
Akselerasi Kasus di Negara Berkembang
Kondisi kontras terjadi pada kawasan berpenghasilan rendah dan menengah, di mana grafik obesitas anak-anak serta remaja justru mendaki tanpa jeda atau bergerak semakin cepat.
Tim peneliti menemukan bahwa pada tahun 2024, rasio pertumbuhan obesitas menyentuh level tertinggi sejak tahun 1980 di 110 dari 200 negara untuk anak perempuan, serta terjadi di 91 negara bagi anak laki-laki.
Mayoritas wilayah yang mengalami lonjakan tajam tersebut berstatus sebagai negara berkembang. Akselerasi pertumbuhan ini bahkan terdeteksi di area yang sebelumnya memiliki riwayat kasus rendah, seperti Tanzania, Rwanda, Etiopia, Nepal, dan Bangladesh.
Pada periode yang sama, akumulasi kasus obesitas sudah melonjak tinggi di sejumlah negara kepulauan Karibia dan Pasifik, termasuk di antaranya Niue serta Bahama.
Pola serupa dijumpai pada wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, dan negara Asia Tenggara seperti Brunei dan Malaysia, ditambah sebagian zona Amerika Latin termasuk Cile.
Disparitas kondisi yang mencolok ini mengindikasikan bahwa dinamika sosial, faktor ekonomi, serta perkembangan teknologi dalam memproduksi dan mendistribusikan makanan bersubsidi turut membantu menekan laju obesitas di negara makmur.
Namun, fenomena yang berkembang di negara miskin dan berkembang dinilai masih memerlukan intervensi berupa regulasi serta kebijakan pemerintah lokal yang jauh lebih ketat.
Penelitian menegaskan bahwa arus urbanisasi yang masif, pergeseran budaya makan, tingginya konsumsi pangan olahan (ultra-processed food), serta minimnya aktivitas fisik menjadi stimulus utama meroketnya obesitas di wilayah berkembang.
Para ilmuwan turut mengingatkan bahwa gangguan obesitas memicu korelasi erat terhadap risiko kesehatan fatal, meliputi penyakit jantung, gangguan ginjal, kerusakan hati, hambatan pernapasan, diabetes, hingga potensi beberapa jenis kanker.