Studi terbaru dari Rice University menemukan bahwa fenomena El Ni├▒o-Southern Oscillation (ENSO) memiliki kaitan signifikan terhadap peningkatan risiko konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Berdasarkan laporan penelitian yang dilansir dari Lestari pada Selasa (12/5/2026), korelasi ini terutama terjadi di wilayah-wilayah yang mengalami kondisi kekeringan ekstrem.
Para peneliti menyoroti bahwa dampak perubahan iklim terhadap stabilitas keamanan global tidaklah seragam. Risiko terjadinya bentrokan fisik ditemukan jauh lebih besar selama fase El Ni├▒o dibandingkan saat periode La Ni├▒a, khususnya pada daerah dengan ketersediaan air yang terbatas atau sektor pertanian yang tertekan.
"Kami menemukan bahwa risiko konflik bersenjata global lebih besar selama El Ni├▒o dibandingkan dengan La Ni├▒a, tetapi kami juga menemukan bahwa peningkatan risiko konflik selama El Ni├▒o terutama terkait dengan wilayah yang mengalami kondisi lebih kering," ujar Tyler Bagwell, mahasiswa doktoral statistik Rice University yang memimpin studi ini.
Bagwell menambahkan bahwa pada wilayah yang mengalami kondisi lebih basah saat El Ni├▒o, tim peneliti tidak menemukan adanya hubungan kredibel dengan peningkatan kekerasan. Hal ini memperjelas jalur kausalitas antara variabel iklim dan konflik melalui faktor kelangkaan sumber daya.
"Tingkat detail spasial yang mendokumentasikan konflik dalam rentang waktu yang begitu panjang belum pernah ada sebelumnya dalam sebuah dataset. Hal ini memungkinkan kami untuk melihat bagaimana variabilitas iklim memengaruhi risiko konflik pada skala yang jauh lebih lokal selama beberapa dekade," tutur Bagwell.
Penelitian ini juga menjadi yang pertama kali mendokumentasikan hubungan antara Indian Ocean Dipole (IOD) dengan risiko konflik bersenjata, terutama di Tanduk Afrika dan Asia Tenggara. Berbeda dengan ENSO, baik fase positif maupun negatif IOD sama-sama berpotensi memicu ketegangan sosial dan ekonomi.
"Temuan kami sangat tepat waktu," ujar Bagwell yang merujuk pada prediksi kemunculan El Ni├▒o super pada akhir tahun ini oleh lembaga meteorologi Amerika dan Eropa.
Ilmuwan iklim dari universitas yang sama juga menekankan pentingnya akurasi prediksi iklim ini bagi mitigasi bencana kemanusiaan. Kemampuan memprediksi pola cuaca dalam skala musiman dianggap sebagai peluang bagi organisasi internasional untuk bersiap lebih awal.
"Pola iklim ini dapat diprediksi dalam skala waktu musiman hingga tahunan. Itu berarti ada peluang untuk menggunakan informasi ini sebagai bagian dari sistem peringatan dini," tutur Sylvia Dee, profesor madya bidang ilmu bumi, lingkungan, dan planet.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini melibatkan analisis manual terhadap lebih dari 500 kejadian konflik dalam periode 1950ÔÇô2023. Tim peneliti memeriksa laporan berita lintas bahasa untuk memastikan ketepatan lokasi geografis setiap insiden guna mendapatkan data beresolusi tinggi.
"Kita tidak bisa mengatakan secara pasti bahwa iklim menyebabkan konflik. Tetapi kita dapat mengatakan bahwa beberapa pola iklim mengubah probabilitas konflik. Dan memahami pergeseran risiko tersebut sangat berharga untuk perencanaan dan mitigasi," ucap Frederi Viens, seorang ahli statistik.