Struktur Demografi Indonesia dan Kenaikan Rasio Ketergantungan

Struktur Demografi Indonesia dan Kenaikan Rasio Ketergantungan
Foto: Ilustrasi Struktur Demografi Indonesia dan Kenaikan Rasio Ketergantungan.

JAKARTA, KOMPAS.com ÔÇô Struktur demografi Indonesia menunjukkan dinamika baru. Di satu sisi, jumlah penduduk usia produktif masih mendominasi.

Namun di sisi lain, beban yang harus ditanggung kelompok ini mulai meningkat, tercermin dari rasio ketergantungan yang kembali naik.

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, setiap 100 penduduk usia produktif kini menanggung sekitar 45 penduduk usia nonproduktif. Angka ini tercermin dari rasio ketergantungan sebesar 45,05.

Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti mengingatkan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan ke depan.

ÔÇ£Kita perlu hati-hati sebab angka rasio ketergantungan mulai meningkat. Indonesia masih mengalami bonus demografi, namun kita sudah memasuki fase ageing population karena proporsi penduduk lansia sudah berada di atas 10 persen, tepatnya 11,97 persen,ÔÇØ ujar Amalia dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Rasio ketergantungan kembali meningkat

Rasio ketergantungan adalah indikator yang menggambarkan perbandingan antara penduduk usia nonproduktif, yakni usia 0ÔÇô14 tahun dan 65 tahun ke atas, dengan penduduk usia produktif (15ÔÇô64 tahun).

Berdasarkan data SUPAS 2025, rasio ketergantungan Indonesia mencapai 45,05. Artinya, dari setiap 100 orang usia produktif, terdapat sekitar 45 orang usia nonproduktif yang harus ditanggung.

Jika ditarik ke belakang, tren rasio ketergantungan sempat mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir. Pada Sensus Penduduk 2010, angkanya berada di level 51,31, kemudian turun menjadi 49,20 pada 2015, dan kembali menurun menjadi 44,33 pada 2020.

Namun, hasil SUPAS 2025 menunjukkan tren tersebut berbalik arah dengan kenaikan menjadi 45,05.

Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi di mana Indonesia masih berada dalam periode bonus demografi.

Selama periode 2015ÔÇô2025, rasio ketergantungan masih berada di bawah 50, yang secara umum menunjukkan proporsi usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif.

Dominasi usia produktif masih kuat

Secara struktur umur, penduduk Indonesia masih didominasi oleh kelompok usia produktif.

Hasil SUPAS 2025 menunjukkan, sekitar 68,94 persen penduduk berada dalam rentang usia 15ÔÇô64 tahun.

Proporsi ini meningkat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Pada 2010, penduduk usia produktif tercatat sebesar 66,09 persen.

Sementara itu, kelompok usia muda (0ÔÇô14 tahun) mengalami penurunan proporsi dari 28,87 persen pada 2010 menjadi 23,44 persen pada 2025. Sebaliknya, kelompok usia lanjut (65 tahun ke atas) meningkat dari 5,04 persen menjadi 7,62 persen dalam periode yang sama.

Perubahan komposisi ini menunjukkan adanya pergeseran struktur penduduk. Basis usia muda mulai menyempit, sementara kelompok usia lanjut semakin melebar.

Dalam konteks generasi, dominasi usia produktif juga tercermin dari besarnya proporsi Gen Z dan milenial. Gen Z menjadi kelompok terbesar dengan porsi 24,93 persen, disusul milenial sebesar 24,34 persen.

Kombinasi kedua generasi tersebut mencakup hampir separuh populasi Indonesia.

Bonus demografi di tengah penuaan penduduk

Meski proporsi usia produktif masih tinggi, Indonesia mulai menghadapi fenomena penuaan penduduk (aging population).

SUPAS 2025 mencatat, persentase penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen. Angka ini telah melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi indikator masuknya suatu negara ke fase ageing population.

Peningkatan jumlah lansia terjadi secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2010, proporsinya masih 7,59 persen, kemudian naik menjadi 8,47 persen pada 2015 dan 9,93 persen pada 2020, sebelum mencapai hampir 12 persen pada 2025.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan rasio ketergantungan. Bertambahnya jumlah penduduk lansia berarti semakin banyak penduduk yang berada di luar usia produktif.

Pertumbuhan penduduk melambat

Dinamika rasio ketergantungan juga tidak terlepas dari tren pertumbuhan penduduk yang melambat.

SUPAS 2025 mencatat, laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,08 persen per tahun dalam lima tahun terakhir. Angka ini lebih rendah dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang sebesar 1,10 persen.

Secara total, jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa pada 2025, meningkat dari 270,20 juta jiwa pada 2020 dan 237,64 juta jiwa pada 2010.

Amalia menyebutkan bahwa perlambatan pertumbuhan penduduk merupakan bagian dari dinamika demografi yang terus berkembang.

Bonus demografi ditandai dengan mendominasinya masyarakat usia produktif, yaitu 15-64 tahun.

ÔÇ£Laju pertumbuhan penduduk yang melambat menunjukkan adanya perubahan pola demografi yang perlu diantisipasi dalam perencanaan pembangunan ke depan,ÔÇØ ujarnya.

Penurunan fertilitas dan perbaikan kesehatan

Selain penuaan penduduk, perubahan rasio ketergantungan juga dipengaruhi oleh penurunan angka kelahiran.

SUPAS 2025 mencatat angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) sebesar 2,13, turun dari 2,18 pada pendataan sebelumnya. Angka ini semakin mendekati tingkat penggantian (replacement level) sebesar 2,10.

Penurunan fertilitas terutama terjadi pada kelompok perempuan usia muda, yakni 15ÔÇô19 tahun dan 20ÔÇô24 tahun.

Di sisi lain, indikator kesehatan menunjukkan perbaikan. Angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) turun menjadi 14,12 kematian per 1.000 kelahiran hidup, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan angka kematian ini turut berkontribusi terhadap perubahan struktur umur penduduk, karena lebih banyak penduduk yang bertahan hidup hingga usia lanjut.

Mobilitas penduduk meningkat

Perubahan struktur demografi juga dipengaruhi oleh mobilitas penduduk yang semakin tinggi.

SUPAS 2025 mencatat, sekitar 15 dari 1.000 penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas tinggal di provinsi yang berbeda dibandingkan lima tahun sebelumnya.

Selain itu, sekitar 9 dari 100 penduduk merupakan migran seumur hidup, yang menunjukkan adanya perpindahan tempat tinggal antarprovinsi dalam jangka panjang.

DKI Jakarta tercatat memiliki karakteristik khusus dengan tingkat migrasi keluar yang tinggi, meskipun tetap menjadi salah satu tujuan utama migrasi masuk.

Mobilitas ini menunjukkan dinamika distribusi penduduk yang terus berubah, seiring dengan perkembangan ekonomi dan kesempatan kerja di berbagai wilayah.

Ilustrasi populasi manusia dalam suatu ekologi. Jumlah manusia yang bisa ditampung Bumi tergantung dari bagaimana cara manusia berkembang

Implikasi perubahan struktur demografi

Kombinasi antara meningkatnya jumlah lansia, menurunnya fertilitas, serta melambatnya pertumbuhan penduduk membentuk struktur demografi baru di Indonesia.

Rasio ketergantungan yang kembali meningkat menjadi salah satu indikator perubahan tersebut.

Jika sebelumnya penurunan rasio ketergantungan menjadi ciri fase bonus demografi, maka kenaikan saat ini menunjukkan adanya transisi menuju struktur penduduk yang lebih tua.

Dalam konteks ini, penduduk usia produktif tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi, tetapi juga menanggung beban yang semakin besar dari kelompok usia nonproduktif.

Data SUPAS 2025 menunjukkan bahwa dinamika ini terjadi secara bertahap, seiring dengan perubahan pola kelahiran, kematian, dan mobilitas penduduk.

Dengan rasio ketergantungan sebesar 45,05, struktur demografi Indonesia masih memberikan ruang bagi pemanfaatan bonus demografi.

Namun, tren peningkatan rasio ini sekaligus menandai perubahan arah yang perlu dicermati dalam perjalanan demografi Indonesia ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi