SKK Migas Ramal Lifting Minyak 2026 Tembus 610.000 Bph, Ini Strategi Terbarunya

SKK Migas Ramal Lifting Minyak 2026 Tembus 610.000 Bph, Ini Strategi Terbarunya
Foto: SKK Migas Ramal Lifting Minyak 2026 Tembus 610.000 Bph, Ini Strategi Terbarunya. (Illustration by Pexels)

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membagikan proyeksi terbaru mengenai capaian lifting minyak nasional. Hingga penghujung tahun 2026, lembaga ini memperkirakan angka lifting akan menyentuh level 600.000 hingga 610.000 barel per hari (bph).

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan kabar tersebut secara langsung dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP). Pertemuan tersebut berlangsung bersama Komisi XII DPR RI pada hari Rabu, 3 Juni 2026.

Proyeksi Strategis Lifting Minyak dan Gas

Djoko Siswanto menjelaskan bahwa realisasi lifting minyak saat ini sudah berada di angka 576.000 barel oil per day (bopd). Berdasarkan tren yang ada, pihaknya optimis angka tersebut akan terus merangkak naik hingga akhir tahun nanti.

Pria yang akrab disapa Djoksis ini juga memberikan gambaran mengenai target produksi untuk periode tahun berikutnya. Ia memproyeksikan lifting untuk tahun 2027 akan berada pada rentang 602.000 hingga 615.000 bopd.

Berikut adalah rincian capaian lifting berdasarkan data SKK Migas hingga Mei 2026:

  • Lifting Minyak Bumi: Berhasil mencapai angka 491.300 barel per hari (bph).
  • Lifting Kondensat: Tercatat sebesar 55.800 barel per hari (bph).
  • Produksi Natural Gas Liquids (NGL): Berada pada posisi 29.100 barel per hari (bph).
  • Produksi Gas Bumi: Menyentuh angka 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
  • Penyaluran (Salur) Gas: Terealisasi sebanyak 5.207 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Data tersebut menunjukkan akumulasi total dari lifting minyak, kondensat, serta NGL selama lima bulan pertama tahun 2026 mencapai 576.200 bph. Angka ini menjadi basis kuat bagi SKK Migas untuk mencapai target akhir tahun yang lebih tinggi.

Evaluasi Target Gas pada APBN 2026

Selain fokus pada sektor minyak, Djoksis juga memaparkan perkembangan di sektor gas bumi yang menjadi bagian penting dari ketahanan energi. Realisasi salur gas saat ini diketahui masih terus diupayakan agar memenuhi target yang ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan data APBN 2026, target lifting gas dipatok pada level 5.508 MMSCFD. Dengan realisasi salur gas yang berada di angka 5.207 MMSCFD, pencapaian saat ini baru menyentuh sekitar 94,5% dari target tahunan.

Perbandingan antara target APBN dan realisasi lapangan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Kategori Produksi Target APBN 2026 Realisasi Mei 2026 Persentase Capaian
Lifting Gas (MMSCFD) 5.508 5.207 94,5%
Lifting Minyak (BPH) 600.000 - 610.000* 576.200 Proyeksi Akhir Tahun

Tabel tersebut merangkum perbandingan data produksi gas dan minyak berdasarkan laporan terbaru dari SKK Migas. Angka 600.000 hingga 610.000 pada kolom minyak merupakan angka outlook yang diharapkan tercapai di akhir tahun 2026.

Upaya Peningkatan Produksi Masa Depan

SKK Migas terus melakukan berbagai langkah strategis untuk mengejar ketertinggalan target, termasuk mengoptimalkan sumur-sumur yang sudah ada. Salah satu fokus yang dibidik adalah meningkatkan produksi dari sumur rakyat yang ditargetkan mencapai 2.000 bph pada Juli mendatang.

Selain itu, percepatan studi bersama (joint study) antara perusahaan besar seperti Shell dan Kufpec pada lima Wilayah Kerja (WK) juga menjadi prioritas. Langkah-langkah kolaboratif ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi lifting nasional di masa depan.

Isu mengenai stagnasi target lifting pada tahun 2027 juga sempat disinggung dalam diskusi bersama dewan. Faktor komponen Natural Gas Liquids (NGL) dinilai menjadi salah satu pemicu yang perlu diwaspadai agar tidak menghambat pertumbuhan produksi jangka panjang.

Pemerintah dan SKK Migas kini tengah berpacu dengan waktu untuk memastikan impor minyak mentah tidak terus membengkak. Peningkatan produksi dalam negeri dianggap sebagai solusi utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari tekanan ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi