Mengenal Sisi Spiritual RA Kartini Sebagai Santriwati Mbah Sholeh Darat

Mengenal Sisi Spiritual RA Kartini Sebagai Santriwati Mbah Sholeh Darat
Foto: Ilustrasi Mengenal Sisi Spiritual RA Kartini Sebagai Santriwati Mbah Sholeh Darat.

Raden Ajeng Kartini selama ini lebih populer sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia yang memperjuangkan hak pendidikan. Namun, terdapat dimensi spiritual yang mendalam dari sosok kelahiran Jepara ini yang jarang menjadi konsumsi publik.

Dikutip dari Cahaya, Kartini diketahui pernah menjadi santriwati dari ulama terkemuka asal Jawa Tengah, KH Muhammad Sholeh bin Umar atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Hubungan guru dan murid ini memberikan dampak besar pada pemikiran keislaman sang pahlawan.

Kedekatan intelektual tersebut juga menjadi pemicu lahirnya tafsir Al Quran dalam bahasa lokal. Dalam perjalanannya mencari ilmu, Kartini dilaporkan aktif mengikuti pengajian yang dipimpin Mbah Sholeh Darat di berbagai wilayah seperti Jepara, Demak, hingga Kudus.

Mbah Sholeh Darat merupakan pendiri Pesantren Darat di Semarang yang menjadi tempat bernaung tokoh-tokoh besar. Beberapa muridnya yang paling berpengaruh adalah KH Hasyim Asy'ari yang mendirikan Nahdlatul Ulama serta KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah.

Rizka Chamami, seorang dosen UIN Walisongo Semarang, mengungkapkan bahwa Mbah Sholeh Darat sering memberikan naskah tulisan tangan atau pretilan kepada Kartini. Melalui lembaran-lembaran tersebut, Kartini mulai mempelajari huruf Arab Pegon untuk memahami teks keagamaan.

Keresahan dalam Memahami Makna Al Quran

Sebagai individu dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Kartini sempat merasa hampa saat awal mempelajari Al Quran. Ia merasa kesulitan karena hanya diajarkan cara membaca tanpa memahami makna atau esensi dari setiap ayat suci tersebut.

Kartini berpendapat bahwa mempelajari kitab suci tanpa pemahaman arti hanya akan menyulitkan umat dalam menyerap hikmah di dalamnya. Keresahan ini sempat ia sampaikan kepada gurunya, namun saat itu ia diingatkan mengenai ketatnya syarat untuk menjadi penafsir Al Quran.

Penafsiran kitab suci pada masa itu mengharuskan penguasaan berbagai disiplin ilmu pendukung. Beberapa di antaranya meliputi gramatika Arab, nahwu, shorof, ilmu badi, maani, bayan, nasikh mansukh, hingga asbabun nuzul.

Kondisi tersebut ia tuangkan dalam sepucuk surat kepada Stella EH Zeehandelaar pada 6 November 1899.

"Al-QurÔÇÖan terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Di sini, orang diajari membaca Al-QurÔÇÖan, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya," tulis Kartini saat berusia 20 tahun.

"Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?" lanjut perempuan yang wafat pada usia 25 tahun itu.

Lahirnya Tafsir Faidlur Rahman

Mbah Sholeh Darat kemudian merespons kegelisahan Kartini dengan menyusun Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid-Dayyan. Kitab tafsir ini ditulis menggunakan huruf Arab Pegon agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat lokal Jawa.

Proses penulisan jilid pertama dilakukan dalam kurun waktu sebelas bulan, mulai dari 19 Februari 1892 hingga 9 Desember 1892. Jilid perdana ini setebal 503 halaman yang mencakup pembahasan mengenai surat Al Fatihah serta Al Baqarah.

Sejarah mengenai Kartini yang nyantri kepada Mbah Sholeh Darat ini pertama kali ditemukan oleh Moesa Machfudz, dosen sejarah UGM. Data tersebut bersumber dari catatan pribadi milik KH Ma'shum Demak yang merupakan salah satu murid sang ulama.

Imam Taufiq, ahli tafsir UIN Walisongo, menjelaskan bahwa percepatan penerbitan tafsir karya Mbah Sholeh Darat dipicu oleh desakan Kartini. Permintaan tersebut disampaikan Kartini saat menghadiri pengajian di kediaman pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat.

Dalam pembukaan kitabnya, Mbah Sholeh Darat menegaskan bahwa penerbitan dipercepat karena kebutuhan mendesak umat Islam di Jawa yang belum memahami bahasa Arab. Hubungan ini menjadi bukti nyata adanya dialog intelektual antara kaum ulama dan tokoh pergerakan perempuan.

Artikel terkait

Rekomendasi