Serangan Udara Israel di Libanon Selatan Tewaskan 12 Orang

Serangan Udara Israel di Libanon Selatan Tewaskan 12 Orang
Foto: Ilustrasi Serangan Udara Israel di Libanon Selatan Tewaskan 12 Orang.

Serangkaian serangan udara militer Israel di wilayah Libanon selatan menewaskan sedikitnya 12 orang termasuk dua anak-anak pada Kamis (28/5/2026). Insiden mematikan ini dilansir dari Media Indonesia berdasarkan laporan resmi Kementerian Kesehatan Libanon.

Gempuran tersebut berlangsung di tengah persiapan kedua belah pihak untuk menghadapi putaran keempat pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat pada awal bulan depan. Berdasarkan data resmi, serangan di kota Sidon menghantam sebuah gedung hunian.

Peristiwa di Sidon tersebut merenggut nyawa lima orang termasuk dua perempuan. Tim penyelamat melaporkan bahwa dua lantai pertama bangunan hunian itu hancur total, sementara 21 orang lainnya mengalami luka-luka dengan lima di antaranya anak-anak.

Insiden terpisah juga terjadi di kota Adloun, distrik Sidon, di mana serangan fajar menargetkan sebuah kendaraan. Serangan tersebut menewaskan enam orang yang merupakan satu keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak mereka.

Selain korban warga sipil, militer Libanon mengonfirmasi bahwa seorang tentaranya juga gugur. Prajurit tersebut kehilangan nyawa dalam serangan terpisah saat sedang berkendara di wilayah Nabatieh.

Militer Israel sebelumnya telah menetapkan seluruh area di selatan Sungai Zahrani, sekitar 40 kilometer dari perbatasan, sebagai zona tempur. Warga setempat diinstruksikan untuk segera mengungsi sebelum operasi militer terhadap kelompok Hizbullah dilancarkan.

Kota kuno Tyre menjadi sasaran berat lainnya dalam eskalasi ini. Badan Pertahanan Sipil Libanon mencatat setidaknya ada delapan serangan yang menghantam pusat kota dan pinggirannya sejak Rabu malam, dengan target gedung, kafe, hingga sepeda motor berdasarkan laporan Kantor Berita Nasional (NNA).

Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang seharusnya berlaku sejak 17 April lalu hingga kini tidak pernah dipatuhi. Kedua belah pihak saling tuduh melakukan pelanggaran dan menggunakan klaim tersebut untuk membenarkan serangan balasan masing-masing.

Warga lokal di Tyre mengungkapkan kekhawatiran mereka atas kehancuran kota bersejarah tersebut akibat gempuran yang terus berlangsung. Serangan dinilai seolah-olah menargetkan sejarah dan peradaban kota kuno Tyre.

"Kami akan tetap di sini. Ini negara kami, tanah kami, dan hidup kami," tegas Halawani, warga lokal kepada AFP di tengah kepulan asap yang menyelimuti kota pascaledakan.

Konflik ini semakin meluas sejak awal Maret, ketika Libanon terseret ke dalam perang regional yang lebih besar. Hal itu terjadi setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

Hingga saat ini, situasi di wilayah perbatasan masih tetap kritis. Mobilisasi pasukan darat dan serangan udara dari kedua belah pihak dilaporkan masih terus berlanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi