Ratusan warga sipil memadati Rumah Sakit American University of Beirut (AUB) setelah serangan udara masif Israel menghantam lebih dari 100 target di ibu kota Lebanon pada Rabu (15/4/2026). Eskalasi militer yang terjadi hanya dalam waktu 10 menit ini memicu krisis kemanusiaan hebat di pusat medis tersebut.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon yang dilansir dari Detik Health menunjukkan jumlah korban tewas telah melonjak menjadi 303 orang. Selain korban jiwa, tercatat lebih dari 1.150 orang lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan rudal tersebut.
Kepala Medis RS AUB, Dr. Salah Zeineldine, mengungkapkan bahwa fasilitasnya menerima 76 korban luka dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Sebagian besar pasien yang berada dalam kondisi kritis merupakan anak-anak, termasuk dua bayi yang baru berusia beberapa minggu dan beberapa bulan.
"Banyak dari pasien kritis kami adalah anak-anak. Yang tertua berusia 12 tahun, sementara dua pasien yang harus langsung masuk ICU adalah bayi," ujar Dr. Salah Zeineldine, Kepala Medis RS AUB.
Para korban umumnya menderita trauma kepala dan patah tulang serius akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Meskipun pihak Israel mengeklaim operasi tersebut menargetkan kelompok Hizbullah, tenaga medis di lapangan melaporkan bahwa serangan bersifat acak dan mengenai warga lansia serta wanita.
Presiden Palang Merah Lebanon, Dr. Antoine Zoghbi, menggambarkan situasi ini sebagai perang tanpa batas yang bertujuan menimbulkan rasa sakit maksimal. Kondisi ini diperparah dengan sistem kesehatan Lebanon yang sudah rapuh akibat krisis ekonomi berkepanjangan sejak tahun 2019.
Rumah sakit kini menghadapi kelangkaan stok obat-obatan dan keterbatasan energi akibat pemadaman listrik total. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa persediaan trauma kit penyelamat nyawa di Lebanon terancam habis dalam hitungan hari jika jalur logistik tetap terputus.
Di tengah tekanan medis tersebut, ribuan warga lokal dan asing mulai mengantre untuk mendonorkan darah di berbagai titik rumah sakit. Dr. Zeineldine menekankan bahwa bantuan medis saat ini hanya solusi jangka pendek selama eskalasi militer masih terus berlangsung di wilayah tersebut.