Serangan udara masif yang diluncurkan militer Israel ke wilayah Beirut, Lebanon, pada Rabu, 15 April 2026, mengakibatkan sedikitnya 250 orang meninggal dunia. Agresi mematikan ini menghancurkan kawasan pinggiran selatan dan memicu krisis kemanusiaan di sejumlah rumah sakit setempat.
Kondisi fasilitas kesehatan di Beirut dilaporkan kewalahan menangani arus kedatangan korban yang terus meningkat. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, ambulans kini langsung menuju kamar jenazah karena banyak korban yang tiba sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
Petugas medis di lapangan menyatakan bahwa proses identifikasi menghadapi kendala besar akibat kondisi jasad yang sudah tidak utuh. Tim penyelamat masih terus menyisir reruntuhan bangunan padat penduduk guna mengevakuasi potongan tubuh yang tertimbun material beton.
Untuk mengatasi kesulitan identifikasi visual, otoritas kesehatan mulai mempersiapkan prosedur tes DNA bagi pihak keluarga. Langkah ini diambil karena banyak korban yang tidak lagi dapat dikenali secara fisik setelah terkena dampak ledakan langsung.
Tragedi ini juga berdampak pada warga negara asing, di mana banyak warga Suriah yang menetap di Lebanon turut menjadi korban jiwa. Kheir Hamiyeh dan Abdelrahman Mohammed, dua warga Suriah berusia 24 tahun, dilaporkan kehilangan anggota keluarga mereka dalam insiden tersebut.
Hambatan evakuasi muncul di beberapa titik lokasi karena akses jalan yang sempit serta kepadatan penduduk di wilayah terdampak. Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa sejumlah warga terjebak di dalam bangunan karena tidak menerima peringatan dini sebelum serangan udara terjadi.
Penyisiran di area reruntuhan masih berlangsung hingga saat ini untuk menyatukan bagian tubuh korban sebelum diserahkan kepada keluarga. Petugas pertahanan sipil menggambarkan situasi ini sebagai operasi penyelamatan paling berat dalam beberapa dekade terakhir di Lebanon.