Eskalasi serangan udara militer Israel di Distrik Nabatieh, Lebanon selatan, menyebabkan sedikitnya 10 orang meninggal dunia dan puluhan warga lainnya mengalami luka-luka. Insiden ini memicu kepulan asap tebal di beberapa wilayah perkotaan setelah target-target di daerah tersebut dihantam proyektil.
Data mengenai jumlah korban jiwa dan luka-luka tersebut dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan Lebanon, sebagaimana dilansir dari Kompas. Agresi ini menunjukkan peningkatan ketegangan yang signifikan di wilayah perbatasan meskipun kesepakatan gencatan senjata sebelumnya telah diupayakan.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menginstruksikan militer Israel untuk mengabaikan ketentuan gencatan senjata demi menyerang sasaran Hizbullah secara agresif. Langkah ini sejalan dengan rencana strategis Israel untuk membentuk zona keamanan di dalam kedaulatan Lebanon.
Wilayah zona keamanan yang diincar tersebut diproyeksikan membentang dari garis perbatasan hingga mencapai Sungai Litani. Area ini diperkirakan mencakup sekitar 10 persen dari keseluruhan total luas wilayah negara Lebanon.
Situasi keamanan yang memburuk memicu gelombang pengungsian besar-besaran oleh ribuan warga yang menetap di Lebanon selatan. Masyarakat memilih meninggalkan kediaman mereka untuk menghindari risiko menjadi korban di tengah ancaman serangan yang terus meningkat.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata sejatinya sudah diberlakukan sejak 17 April, kondisi di lapangan tetap rapuh akibat frekuensi pelanggaran yang tinggi. Warga sipil mengungkapkan kekhawatiran mendalam karena operasi militer yang berlangsung dinilai tidak lagi membedakan antara target tempur dan pemukiman penduduk.