Sektor Jasa Keuangan Tumbuh 7,92 Persen pada Kuartal IV 2025

Sektor Jasa Keuangan Tumbuh 7,92 Persen pada Kuartal IV 2025
Foto: Ilustrasi Sektor Jasa Keuangan Tumbuh 7,92 Persen pada Kuartal IV 2025.

Sektor jasa keuangan Indonesia mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 7,92% secara year on year (yoy) pada kuartal IV tahun 2025. Capaian ini menjadi laju pertumbuhan tertinggi yang berhasil dibukukan sejak Juni 2021.

Peningkatan kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional terlihat dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang menyentuh angka 184% terhadap PDB. Perkembangan ini didorong oleh partisipasi masyarakat yang menguat di pasar modal serta diversifikasi produk keuangan yang makin luas.

ÔÇ£Data BPS menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tumbuh sebesar 7,92% secara tahunan pada periode yang sama, yang merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II tahun 2021,ÔÇØ kata Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam webinar Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026), dilansir dari Investortrust.

Friderica menjelaskan bahwa lonjakan pertumbuhan sektor jasa keuangan ini disokong oleh subsektor Asuransi dan Dana Pensiun serta Penunjang Keuangan. Kedua subsektor tersebut kembali mencetak pertumbuhan positif sepanjang 2025 setelah sempat terkontraksi dalam dua tahun sebelumnya.

Rincian rasio aset dan produk keuangan nasional mencakup Kapitalisasi Pasar dan Surat Utang beredar senilai Rp 24.773 triliun atau setara 104%. Sementara itu, Aset Perbankan tercatat sebesar Rp 13.889 triliun atau 58,3%.

Selanjutnya, aset Sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) bersama Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) mencapai Rp 4,05 triliun atau 17%. Aset Lembaga Keuangan Pasar Modal tercatat Rp 87,67 triliun atau 0,4%, dan aset Dana Kelolaan sebesar Rp 1,04 triliun atau 4,4%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen menjaga soliditas stabilitas sektor jasa keuangan melalui tiga kebijakan prioritas. Langkah tersebut meliputi penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, pengembangan ekosistem keuangan yang kontributif bagi ekonomi, serta pendalaman pasar keuangan berkelanjutan.

Friderica menyatakan optimistis tren positif kinerja sektor jasa keuangan di 2026 bisa berlanjut dengan mencermati berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi, serta kebijakan-kebijakan yang diambil.

Pada tahun 2026, OJK memproyeksikan kredit perbankan mampu tumbuh di kisaran 10ÔÇô12% dengan topangan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7ÔÇô9%. Aset program asuransi diperkirakan meningkat 5ÔÇô7%, aset Program Dana Pensiun tumbuh 10ÔÇô12%, dan aset Program Penjaminan tumbuh 14ÔÇô16%.

Untuk piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan diproyeksikan tumbuh sekitar 6ÔÇô8%. Sementara di sektor pasar modal, target penghimpunan dana dipatok dapat menembus angka Rp 250 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai industri jasa keuangan memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas, memperkuat transmisi kebijakan, sekaligus menyokong sektor produktif.

ÔÇ£Dengan sinergi regulator dan pelaku industri, tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, serta komitmen terhadap transformasi, saya meyakini sistem keuangan Indonesia akan tetap resilient dan mampu tumbuh sehat di tengah tantangan global,ÔÇØ katanya.

Hery menambahkan bahwa sektor perbankan saat ini memiliki posisi kokoh untuk mendorong ekspansi kredit ke depan. Likuiditas industri perbankan mengalami penguatan kembali setelah pertumbuhan dana pihak ketiga menembus angka double digit sebesar 11,4% secara year on year.

Kondisi likuiditas yang longgar ini tecermin dari rasio loan to deposit ratio yang berada di kisaran 84%. Angka ini memperlihatkan ruang penyaluran kredit yang masih terbuka lebar tanpa memicu tekanan likuiditas berlebih.

Aspek permodalan perbankan juga sangat kuat dengan capital adequacy ratio di kisaran 26%, melampaui ambang batas minimum yang ditetapkan regulator. Ketersediaan buffer modal yang tebal ini memberikan ketahanan optimal terhadap risiko kualitas aset sekaligus ruang ekspansi kredit secara berkelanjutan.

Artikel terkait

Rekomendasi