Kawasan Uluwatu di Semenanjung Bukit Bali telah bertransformasi menjadi destinasi selancar kelas dunia bagi para ahli sejak pertama kali terpantau dari pantauan udara pada tahun 1970-an. Lokasi ini menawarkan tantangan ombak karang yang konsisten bagi peselancar profesional pada Minggu, 19 April 2026.
Akses menuju titik selancar di pantai ini tergolong unik karena peselancar harus melewati gua di bawah tebing yang langsung terhubung ke laut. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Travel, popularitas kawasan ini melonjak drastis setelah peluncuran film Morning of the Earth pada tahun 1972.
Film karya Albert Falzon dan David Elfick tersebut memicu lahirnya tren baru dalam dunia selancar. Era papan selancar panjang tradisional mulai ditinggalkan oleh generasi baru yang lebih memilih papan selancar pendek karena lebih mudah untuk dikendalikan di atas ombak.
Wayne Lynch, seorang peselancar kidal asal Australia, menceritakan pengalamannya saat mengunjungi lokasi tersebut pada tahun 1973. Saat itu, masyarakat setempat masih menganggap kawasan tersebut sebagai wilayah yang sakral dan penuh risiko bagi pengunjung luar.
"Uluwatu dianggap tabu oleh masyarakat Bali," kenang Lynch.
Ia menceritakan bahwa kondisi lingkungan di sana masih sangat sepi dan mencekam bagi para pendatang. Ketakutan warga lokal terhadap keselamatan para peselancar terbukti melalui insiden cedera yang dialami oleh rekan perjalanannya.
"Itu adalah tempat roh dan Anda tidak boleh pergi ke sana. Mereka terkejut dan khawatir akan keselamatan kami. Kematian Bob Laverty dan cedera yang dialami Peter menegaskan kembali apa yang telah mereka katakan kepada kami. Itu menyeramkan. Maksud saya, saat itu sangat mencekam. Tidak ada orang di sekitar," ucap Lynch.
Reputasi Uluwatu kemudian menarik perhatian peselancar legendaris asal Hawaii, Gerry Lopez dan Rory Russel, untuk datang pada tahun 1974. Kehadiran mereka semakin memperkuat posisi Bali dalam peta selancar internasional melalui pendokumentasian film Chasing The Lotus.
"Ombaknya ada setiap hari," kenang Lopez.
Peselancar yang dikenal dengan julukan Mr. Pipeline ini menggambarkan kondisi alam Uluwatu yang masih sangat asri dan tenang pada masa itu. Ia merasa beruntung bisa menikmati kualitas ombak yang sempurna tanpa adanya keramaian pengunjung.
"Sempurna. Tidak ada orang di sekitar... seperti mimpi," ujar Lopez.
Keberhasilan film-film dokumenter tersebut akhirnya membuka jalan bagi penemuan berbagai titik selancar lainnya di seluruh Bali. Saat ini, Uluwatu tetap menjadi magnet utama bagi komunitas selancar global yang mencari tantangan ombak teknis.