Sejarawan JJ Rizal memaparkan transformasi historis kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang awalnya direncanakan sebagai lokasi pembangunan Stadion Gelora Bung Karno oleh Presiden Soekarno dalam sebuah acara bincang-bincang pada Minggu (10/5/2026).
Visi pembangunan tersebut bergeser setelah arsitek Frederich Silaban lebih menyarankan wilayah Senayan sebagai lokasi stadion, sehingga Bung Karno mengubah fungsi Kuningan menjadi kawasan diplomatik internasional sesuai semangat Dasasila Bandung.
Kawasan ini kini dipenuhi oleh kantor kedutaan besar serta nama-nama jalan yang merujuk pada dunia internasional, sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Penataan Kuningan berlanjut pada era Gubernur Ali Sadikin dengan pembangunan fasilitas publik.
"Nah, ini kan dulu Kuningan jadi enggak dipakai buat apa-apa ya? Jadi Soekarno kemudian bilang, 'Oh, saya punya gagasan agar Kuningan ini menjadi kawasan yang merupakan manifestasi dari Dasasila Konferensi Asia Afrika, kawasan internasional,'" kata Rizal, Sejarawan.
Rizal menjelaskan bahwa pemberian nama HR Rasuna Said pada jalan protokol di kawasan tersebut bertujuan untuk memberikan sentuhan feminin di tengah dominasi nama pahlawan laki-laki di Jakarta.
"Kenapa dikasih nama jalan Rasuna Said? Karena mayoritas jalan protokol di Jakarta itu laki-laki," kata Rizal, Sejarawan.
Filosofi di balik nama tersebut berkaitan dengan konsep 'resik' atau kebersihan yang harus dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap marwah pahlawan wanita tersebut oleh masyarakat dan pemerintah setempat.
"Kalau misalnya kawasan Rasuna itu enggak bersih, artinya dia durhaka terhadap ibunya sendiri, Ibu Rasuna Said," ujar Rizal, Sejarawan.
Kondisi ruang terbuka hijau di Jakarta saat ini baru mencapai 10 persen, masih jauh dari angka ideal 35 hingga 37 persen. Tantangan perubahan iklim ini menjadi fokus utama dalam peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta di wilayah tersebut.