Kemegahan bangunan KaÔÇÖbah di Masjidil Haram selalu dilengkapi dengan kehadiran kain hitam bersulam benang emas. Kain penutup bernama kiswah tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan menjadi simbol penghormatan, kemuliaan, serta sejarah panjang peradaban Islam.
Tradisi penggantian kiswah KaÔÇÖbah rutin dilakukan setiap tahun pada 9 Dzulhijjah, seperti dilansir dari Cahaya. Momentum ini bertepatan dengan pergerakan jutaan jamaah haji menuju Arafah untuk melaksanakan ibadah wukuf.
Prosesi yang telah berjalan selama berabad-abad ini mengalami banyak transformasi. Awalnya, penutup Baitullah menggunakan bahan sederhana seperti kulit dan kain kasar, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi sutra hitam berkualitas tinggi dengan sulaman ayat Al-QurÔÇÖan dari emas dan perak.
Tradisi memasang kiswah pada KaÔÇÖbah sebenarnya telah dimulai jauh sebelum kedatangan Islam. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Ismail AS merupakan sosok pertama yang menutup bangunan suci ini.
Meskipun demikian, catatan sejarah yang paling banyak dirujuk menyatakan Raja Himyariyah dari Yaman, Abu Karb AsÔÇÖad atau TubbaÔÇÖ, sebagai orang pertama yang secara resmi menyelimuti KaÔÇÖbah. Raja AsÔÇÖad mendapatkan petunjuk melalui mimpi untuk menutupi KaÔÇÖbah dengan kain saat kembali dari perjalanan ke Yatsrib pada masa pra-Islam.
Ketika melewati Makkah, ia mewujudkan mimpi tersebut dengan memasang penutup dari kulit dan kain kasar khas Yaman. Riwayat lain mengemukakan bahwa daun kurma dan kain beraroma wangi dari MaÔÇÖafir sempat digunakan, sebelum diganti dengan kain tenun Yaman yang lebih ringan karena bahan sebelumnya terlalu berat.
Sistem Pengumpulan Dana dan Peran Sutra Pertama
Seiring berjalannya waktu, berbagai suku Arab saling berkompetisi untuk mempersembahkan kain terbaik bagi KaÔÇÖbah. Tradisi ini terus berkembang sampai pada masa buyut Nabi Muhammad SAW, Qushay bin Kilab, yang menginisiasi sistem pengumpulan dana dari suku Quraisy untuk membeli kiswah baru setiap tahun.
Penyediaan kain penutup ini kemudian dipandang sebagai tanggung jawab kehormatan sekaligus tugas keagamaan yang sakral. Masyarakat Arab pada era tersebut meyakini bahwa menyelimuti KaÔÇÖbah merupakan bentuk pengabdian tertinggi kepada Baitullah.
Catatan sejarah juga mengabadikan peran Natilah binti Janab, ibu dari Abbas bin Abdul Muthalib, sebagai perempuan pertama yang membuat dan menyelimuti KaÔÇÖbah dengan kain sutra. Kisah ini bermula dari nazarnya saat Abbas kecil sempat hilang, di mana ia berjanji akan menutupi KaÔÇÖbah dengan sutra jika putranya ditemukan.
Perkembangan Kiswah pada Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin
Saat peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan Kota Makkah, Rasulullah SAW tetap mempertahankan kiswah peninggalan zaman Jahiliyah yang sudah terpasang. Kain tersebut baru diganti setelah mengalami kerusakan akibat terkena bara dupa, lalu diganti dengan kain Yaman bergaris merah dan putih.
Setelah Rasulullah SAW wafat, para khalifah melanjutkan tradisi mulia ini. Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan memilih menggunakan kain putih dari Mesir yang disebut qabati, sementara Abdullah bin Zubair menyelimuti KaÔÇÖbah dengan kain brokat merah.
Alasan Pemilihan Warna Hitam
Warna penutup KaÔÇÖbah tidak selalu identik dengan warna hitam seperti era modern saat ini. Sepanjang sejarahnya, Baitullah pernah dibalut dengan kain berwarna putih, merah, hijau, hingga perpaduan beberapa warna sekaligus.
Direktur Pusat Sejarah Makkah, Fawaz al-Dahas, menjelaskan bahwa perubahan warna kain penutup sangat dipengaruhi oleh faktor finansial dan kualitas bahan yang tersedia pada setiap zaman.
ÔÇ£KaÔÇÖbah pernah ditutup dengan kain putih, merah, dan hitam. Pemilihan warna tersebut berdasarkan kondisi finansial dan kualitas bahan pada masa itu,ÔÇØ ujar Fawaz al-Dahas.
Kain berwarna putih dinilai memiliki estetika yang indah dan terang, namun memiliki kelemahan karena cepat kotor dan mudah rusak akibat sering disentuh oleh jamaah. Oleh karena itu, pada akhir masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, ditentukanlah penggunaan warna hitam karena dinilai lebih awet serta tahan lama.
Peralihan Produksi dari Mesir ke Arab Saudi
Mesir menjadi pusat utama pembuatan kiswah KaÔÇÖbah selama berabad-asor, terutama sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Bahkan, sebuah pabrik khusus pernah didirikan di distrik Kharnafasy, Kairo, pada era Dinasti Fatimiyah untuk memproduksi kain mewah berhias emas, permata, minyak kasturi, dan kaligrafi.
Pengiriman kain dari Mesir ini terus berlangsung hingga awal abad ke-20. Perubahan terjadi setelah berdirinya Kerajaan Saudi, di mana Raja Abdul Aziz mengambil alih proses produksi dan membangun pabrik khusus di kawasan Ajyad yang berada di dekat Masjidil Haram.
Saat ini, seluruh proses pembuatan berpusat di Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Kiswah KaÔÇÖbah yang terletak di Umm al-Joud, Makkah. Fasilitas modern ini mempekerjakan ratusan pengrajin ahli untuk menenun, menyulam, dan merakit kain baik secara manual maupun memanfaatkan teknologi terkini.
Teknologi Modern dan Alasan Penggantian Tahunan
Satu set kiswah KaÔÇÖbah modern diproduksi dengan standar teknologi tinggi serta membutuhkan biaya yang sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, proses pembuatan satu kiswah menghabiskan sekitar 670 kilogram sutra hitam, 120 kilogram benang emas, dan 100 kilogram benang perak.
Biaya operasional untuk memproduksi seluruh komponen ini diperkirakan mencapai lebih dari 17 juta riyal Saudi. Selain memproduksi penutup bagian luar, pabrik ini juga membuat tirai untuk pintu KaÔÇÖbah serta kain pelapis khusus untuk bagian dalam ruangan.
Tujuan utama dari penggantian kiswah secara berkala setiap tahun adalah untuk menjaga kesucian dan kualitas fisik dari penutup bangunan tersebut. Pada masa Dinasti Umayyah, kain baru sempat ditumpuk di atas kain lama hingga membebani struktur bangunan.
Kondisi tersebut membuat Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah mengeluarkan perintah untuk melepas kiswah lama sebelum memasang yang baru. Setiap helai kain ini menjadi pengingat bagi umat Islam mengenai perjalanan panjang ketauhidan dan persatuan umat dari seluruh penjuru dunia.