Sejarah Bangunan Ka'bah Terendam Banjir Besar Berkali-kali

Sejarah Bangunan Ka'bah Terendam Banjir Besar Berkali-kali
Foto: Ilustrasi Sejarah Bangunan Ka'bah Terendam Banjir Besar Berkali-kali.

Ka'bah yang menjadi kiblat suci umat Islam di seluruh dunia ternyata menyimpan sejarah panjang terkait bencana alam. Bangunan yang berdiri di tengah Masjidil Haram ini tercatat pernah terendam banjir besar dalam berbagai periode sejarah.

Secara geografis, kota Makkah berada di dataran rendah yang dikelilingi oleh perbukitan. Bentuk wilayah yang menyerupai cekungan ini membuat air hujan sulit terserap oleh tanah Arab yang sangat kering, sehingga memicu luapan air ke pemukiman.

Dilansir dari Detikcom, banjir besar bahkan sudah terjadi sejak masa Nabi Nuh AS yang menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan. Peristiwa serupa kembali berulang pada masa Nabi Muhammad SAW, tepatnya lima tahun sebelum masa kenabian.

Menurut Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad, Masjidil Haram saat itu terendam air dan terancam runtuh. Kondisi ini terjadi karena Ka'bah kala itu hanya dibangun dari tumpukan batu tanpa menggunakan bahan perekat.

Menanggapi ancaman tersebut, tokoh Quraisy menyewa arsitek Romawi bernama Baqum untuk melakukan perbaikan. Namun, bencana air ini tidak berhenti di situ dan kembali terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.

Salah satu catatan bencana yang paling detail terjadi pada 19 Syaban 1039 H. Hujan lebat mengguyur Makkah mulai pukul 02.00 dini hari hingga waktu Ashar, dan terus berlanjut sampai keesokan harinya.

Bencana ini mengakibatkan sekitar 1.000 orang meninggal dunia serta banyak hewan ternak yang hanyut. Kerusakan fisik pada bangunan suci tidak terhindarkan ketika sebagian dinding Syami, sisi Timur, Barat, hingga area loteng ambruk pada sore hari.

Penguasa Makkah saat itu, Mas'ud bin Idris bin Hasan, segera mengambil langkah darurat dengan memerintahkan pembukaan tanggul pintu Ibrahim. Hal ini bertujuan agar air yang menggenangi Masjidil Haram bisa segera dialirkan ke arah hilir kota.

Di tengah kepanikan, penjaga Ka'bah diperintahkan untuk mengamankan 22 lampu emas yang bertahtakan permata dan mutiara. Barang-barang berharga tersebut kemudian disimpan sementara di kediaman Syekh Jamaluddin Muhammad Abu Qasim Asy Syaibi.

Dokumentasi Banjir di Era Modern

Memasuki abad ke-20, peristiwa banjir besar kembali terdokumentasikan dengan baik pada tahun 1941. Luapan air merendam bagian dalam Masjidil Haram hingga mencapai ketinggian leher orang dewasa dan menyentuh setengah bagian bangunan Ka'bah.

Dampak dari rendaman air yang berulang ini mengakibatkan tiang-tiang kayu di dalam Masjidil Haram menjadi lapuk. Selain tahun 1941, peristiwa banjir di area suci tersebut juga tercatat pernah terjadi kembali pada tahun 2012.

Artikel terkait

Rekomendasi