SBY Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup, Ada Strategi Baru di 2026

SBY Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup, Ada Strategi Baru di 2026
Foto: SBY Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup, Ada Strategi Baru di 2026. (Illustration by Pexels)

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan pandangan mendalam mengenai indikator keberhasilan pembangunan sebuah negara. Menurut beliau, pertumbuhan ekonomi yang tinggi saat ini sudah tidak lagi memadai untuk dijadikan satu-satunya tolok ukur kesuksesan.

Pernyataan ini disampaikan SBY dalam acara The 2026 Asia Grassroots Forum yang diselenggarakan oleh Amartha di Jakarta pada Kamis kemarin. Beliau menyoroti kondisi global yang penuh ketidakpastian sebagai alasan utama diperlukannya perubahan paradigma pembangunan.

SBY menjelaskan bahwa negara-negara berkembang kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengejar angka pertumbuhan. Ia menekankan pentingnya membangun ekonomi yang tangguh, inklusif, serta mampu berkelanjutan dalam jangka panjang.

Pertumbuhan ekonomi yang terlihat mengesankan di atas kertas sering kali tidak sejalan dengan realitas sosial di lapangan. SBY memperingatkan bahwa tanpa pengelolaan yang tepat, angka pertumbuhan tersebut justru bisa memicu ketimpangan yang semakin lebar.

Kesenjangan yang semakin nyata dapat berdampak buruk pada stabilitas sebuah negara, mulai dari menurunnya kepercayaan publik hingga terjadinya fragmentasi sosial. Oleh karena itu, pembangunan harus mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Tantangan Global dan Ketahanan Ekonomi

SBY menjabarkan sejumlah faktor eksternal yang menjadi beban berat bagi pembangunan ekonomi saat ini. Ketegangan geopolitik dunia, ancaman perubahan iklim, serta percepatan teknologi menjadi faktor-faktor yang tidak bisa diabaikan.

Fokus utama pemerintah saat ini seharusnya bukan hanya memacu roda ekonomi agar terus berputar cepat. Penguatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis global menjadi prioritas yang jauh lebih krusial.

Berikut adalah beberapa poin utama yang ditekankan oleh SBY dalam pidatonya:

  • Pertumbuhan ekonomi harus bersifat inklusif agar manfaatnya dapat dirasakan merata oleh seluruh rakyat.
  • Pemberdayaan sektor UMKM perlu diperkuat sebagai fondasi utama ketahanan ekonomi nasional.
  • Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci daya saing di masa depan.
  • Transformasi digital dan inovasi harus menjadi motor baru penggerak ekonomi kawasan.

Poin-poin di atas mencerminkan visi SBY mengenai perlunya pergeseran fokus pembangunan ke arah yang lebih humanis dan adaptif terhadap teknologi. Beliau percaya bahwa pemberdayaan masyarakat akar rumput melalui UMKM adalah instrumen paling efektif untuk memperluas inklusi ekonomi.

Transformasi Model Ekonomi Asia

Lebih lanjut, SBY menilai bahwa model pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia sudah saatnya mengalami transformasi besar. Ia berpendapat bahwa ketergantungan pada tenaga kerja murah dan komoditas mentah sudah tidak relevan lagi untuk masa depan.

Asia tidak bisa terus-menerus mengandalkan konsumsi domestik dan biaya produksi rendah sebagai motor utama penggerak ekonomi. Kawasan ini harus mulai beralih pada penguatan produktivitas yang berbasis pada kewirausahaan dan inovasi digital.

Dalam pandangan SBY, peta persaingan global di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan sebuah negara untuk beradaptasi dengan cepat. Investasi pada manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan menjadi hal yang mutlak dilakukan.

Beliau menutup pesannya dengan menegaskan bahwa daya saing masa depan bukan soal siapa yang memproduksi barang paling murah. Keunggulan sebuah bangsa akan ditentukan oleh seberapa besar kemampuan mereka untuk terus berinovasi dan berinvestasi pada kualitas hidup manusianya.

Artikel terkait

Rekomendasi