SBY Soroti Dampak Ekonomi Global Akibat Konflik Amerika Serikat-Iran

SBY Soroti Dampak Ekonomi Global Akibat Konflik Amerika Serikat-Iran
Foto: Ilustrasi SBY Soroti Dampak Ekonomi Global Akibat Konflik Amerika Serikat-Iran.

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperingatkan potensi kehancuran ekonomi global akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (15/4/2026). Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat menghadiri agenda Supermentor yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Sektor ekonomi menjadi aspek yang paling terdampak secara langsung oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut. Gejolak ini dinilai dapat menjalar ke berbagai negara di seluruh belahan dunia jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.

"Sebab kalau perang masih begini di Timur Tengah, semua negara kena, ekonomi akan berantakan di seluruh dunia," ujar SBY, Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Dilansir dari Nasional, stabilitas internasional terganggu setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat dengan Israel sejak Februari 2026 yang memicu penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini secara otomatis menyebabkan lonjakan harga minyak dunia yang signifikan.

SBY mengungkapkan kekhawatiran bahwa krisis ekonomi serupa tahun 2008 bisa terulang jika eskalasi militer terus berlanjut. Saat ini, perhatian dunia tertuju pada upaya negosiasi yang sedang berlangsung di Islamabad, Pakistan, sebagai jalan keluar dari krisis.

"Mudah-mudahan yang sekarang berlangsung di Islamabad, Pakistan, antara delegasi Amerika dan delegasi Iran itu bisa menghasilkan kesepakatan, deal to end the war," ujar SBY, Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Mantan Kepala Negara ini menekankan pentingnya sikap saling menghargai dan konsesi dalam meja perundingan. Pencapaian solusi permanen membutuhkan kerelaan kedua belah pihak untuk melunakkan posisi masing-masing demi kepentingan keamanan global.

"Tidak ada resep ajaib untuk sebuah kesepakatan. Perlu ada take and give, kompromi, dan kesediaan masing-masing pihak untuk mundur satu langkah," ujar SBY, Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Harapan besar diletakkan pada perundingan di Islamabad agar stabilitas harga komoditas dan keamanan jalur perdagangan internasional dapat segera pulih. Keberhasilan kesepakatan tersebut dipandang sebagai faktor kunci untuk mencegah resesi global yang lebih dalam.

Artikel terkait

Rekomendasi