Persaingan dunia kerja yang ketat memaksa banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia mengambil pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka pada Rabu, 15 April 2026. Fenomena banting setir ini dilakukan para sarjana demi bertahan hidup di tengah keterbatasan serapan tenaga kerja sektor formal.
Data Angkatan Kerja Agustus 2025 menunjukkan proporsi tenaga kerja sektor formal hanya mencapai 40 persen, sementara 60 persen sisanya berada di sektor informal, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Kondisi tersebut memicu masalah psikologis bagi pekerja yang merasa terjebak dalam realita yang tidak sesuai harapan.
Psikolog Talissa Carmelia menjelaskan bahwa kesenjangan antara tujuan dan kenyataan dapat memicu kebingungan bagi individu. Dampak yang muncul tidak hanya sebatas pilihan karier, tetapi juga menyentuh aspek kepercayaan diri.
"Ia akan merasa bingung dengan keputusan yang diambilnya serta tujuan di masa depan. Hal ini disebabkan karena gap antara tujuan dan realita yang diinginkan," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Penurunan motivasi kerja seringkali menjadi kelanjutan dari hilangnya makna atas pekerjaan yang sedang dijalani saat ini. Situasi ini berdampak langsung pada performa profesional seseorang di lingkungan kerja.
ÔÇ£Mereka juga kehilangan makna pekerjaan sehingga bisa memengaruhi motivasi hingga kualitas bekerja," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Tekanan mental menjadi risiko nyata apabila ketidaksesuaian jalur karier ini dibiarkan berlangsung secara berkepanjangan tanpa pengelolaan emosi yang tepat. Stres dan kecemasan menjadi ancaman utama bagi kesehatan mental para pekerja tersebut.
ÔÇ£Hanya saja, saat berada dalam situasi yang tidak sesuai dengan harapan dan targetnya dalam jangka waktu yang cukup panjang, maka akan memunculkan masalah kesehatan mental, seperti stres, cemas hingga berbagai masalah kesehatan mental lainnya," ujar Talissa Carmelia, Psikolog.
Talissa menambahkan bahwa individu yang memandang pekerjaan saat ini hanya sebagai beban cenderung akan kehilangan fokus. Hal ini seringkali berujung pada kebiasaan menunda pekerjaan.
ÔÇ£Cenderung menunda dan memengaruhi kualitas kerja yang diberikan dalam proses kerja," katanya Talissa Carmelia, Psikolog.
Di sisi lain, perspektif positif bahwa pekerjaan saat ini adalah sebuah jembatan menuju tujuan besar dapat meningkatkan produktivitas. Fokus dan semangat menjadi pembeda antara mereka yang merasa terjebak dengan mereka yang merasa memilih.
ÔÇ£Bagi yang menggangapnya pilihan atau batu loncatan, maka ia akan lebih bersemangat karena memiliki tujuan atau target yang ingin dilakukannya, ia akan lebih fokus dalam bekerja sehingga kualitas kerja yang lebih maksimal," ujar Talissa Carmelia, Psikolog.
Penerimaan diri terhadap perbedaan realita kerja merupakan kunci untuk menjaga harga diri tetap stabil. Sebaliknya, sikap yang terus membandingkan diri dengan orang lain hanya akan memperburuk kondisi psikis.
ÔÇ£Jika ia mampu menerima dan memproses perbedaaan yang dihadapi dengan terbuka dan dewasa, maka ia akan menjadi pribadi yang tetap percaya diri dengan pengalaman dan kemampuannya," ujar Talissa Carmelia, Psikolog.
Penyesalan yang mendalam terhadap jalur karier yang melenceng dinilai dapat mengikis rasa percaya diri secara perlahan. Hal ini membuat individu sulit menghargai kemampuan yang sebenarnya mereka miliki.
ÔÇ£Hal ini akan merendahkan harga diri dan membuatnya menjadi tidak percaya diri dengan apa yang dimilikinya," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Kisah adaptasi dialami oleh Dwyas Ayu yang berpindah haluan dari latar belakang Pendidikan Bahasa Inggris ke dunia wirausaha kreatif di Salatiga. Ia memulai langkah baru dengan bergabung di komunitas lingkungan sejak tahun 2011.
"Kami mendaur ulang sampah plastik menjadi tas dan dompet. Kami juga memberi workshop kepada masyarakat tentang pentingnya mencintai lingkungan," kata Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Ayu mengisahkan perjuangan awalnya merintis usaha jahit jeans bekas pada 2013 yang dimulai dengan keterbatasan fasilitas. Ia harus memanfaatkan alat seadanya di kamar kos untuk mengejar mimpinya.
"Pada awalnya saya yang pada saat itu belum memiliki mesin jahit sendiri harus meminjam mesin kepada teman satu komunitas saya. Saya kerjakan tas-tas dari jeans bekas tersebut di kamar kost dengan alat seadanya," katanya Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Meskipun melenceng dari gelar sarjananya, Ayu merasa masa perkuliahan tetap memberikan landasan karakter yang kuat dalam berbisnis. Kemampuan berkomunikasi dan ketahanan mental menjadi modal utama yang ia rasakan.
"Setidaknya dengan berkuliah, saya mendapat banyak bekal untuk menyikapi hidup, berkomunikasi dengan banyak orang dengan baik, dan tahan tempaan," ujar Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Hingga saat ini, Ayu mengaku puas dengan pencapaian usahanya dan belum berniat kembali ke jalur pendidikan formal sebagai pengajar. Fokus utamanya kini adalah memperluas lapangan pekerjaan bagi orang lain.
"Sampai saat ini saya senang dengan pekerjaan ini, dan belum terpikir untuk bekerja sesuai pendidikan saya. Saya justru terus berpikir untuk mengembangkan usaha saya agar terus naik dan besar hingga bisa menyerap banyak tenaga kerja," ujar Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Pengalaman serupa dirasakan Nadia Murti (30) yang meninggalkan profesi guru taman kanak-kanak karena kendala kesejahteraan. Gaji yang berada di bawah standar minimum membuatnya harus beralih ke sektor swasta bersama suaminya.
ÔÇ£Bukannya tidak bersyukur. Tetapi dengan gaji di bawah UMR saya sebagai guru (waktu itu) terkadang masih harus mengeluarkan modal sendiri untuk membuat media pembelajaran anak. Sehingga, gaji tidak cukup untuk kebutuhan hidup,ÔÇØ katanya Nadia Murti, Pengusaha.
Nadia kini mengelola usaha furnitur dan peternakan yang memberikan penghasilan lebih stabil dibandingkan profesi sebelumnya. Kesamaan visi dengan pasangan menjadi faktor pendorong utama keputusannya berpindah profesi.
"Yang membuat saya banting stir ke bidang yang sekarang karena saya menikah dengan suami yang memiliki kesamaan visi, misi dan tujuan," kata Nadia Murti, Pengusaha.
Meski pendapatan dari sektor furnitur bersifat fluktuatif, Nadia menyebutkan adanya potensi penghasilan besar pada saat-saat tertentu. Namun, ia tetap mengakui adanya masa-masa tanpa pemasukan sama sekali di bidang tersebut.
ÔÇ£Kadang borongan sebulan dapet 13 juta atau 30 juta itu belum termasuk dua bidang usaha lainnya,ÔÇØ katanya Nadia Murti, Pengusaha.
Nadia menambahkan detail mengenai sifat musiman dari bisnis mebel yang ia jalani saat ini. Hal ini menuntut manajemen keuangan yang lebih disiplin dibandingkan bekerja sebagai pegawai.
ÔÇ£Tapi kalau Mabel itu pemasukannya musiman. Jadi kadang ada pemasukannya kadang ya beberapa bulan engga ada,ÔÇØ tambahnya Nadia Murti, Pengusaha.
Menanggapi situasi ini, Pengamat ketenagakerjaan Tadjuddin Noer menyoroti ketimpangan antara jumlah lulusan dengan ketersediaan posisi di kantor atau perusahaan formal. Sektor informal akhirnya menjadi pelarian bagi para sarjana.
ÔÇ£Pekerja yang bekerja di sektor formal itu hanya 40% menurut data Angkatan Kerja Agustus 2025 karena yang 2026 belum terbit. Sektor informalnya itu 60 persen,ÔÇØ ujarnya Tadjuddin Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Ia juga menekankan adanya ketidaksesuaian antara jurusan yang diambil mahasiswa dengan kebutuhan teknis industri. Hal ini membuat banyak lulusan bidang non-teknis kesulitan bersaing di pasar kerja utama.
ÔÇ£Jadi menyebabkan kemudian para sarjana yang tidak masuk ke pasar kerja itu terpaksa mereka mengadu nasib di sektor informal atau prekariat," katanya Tadjuddin Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Tadjuddin menyarankan agar para lulusan tidak hanya terpaku pada ijazah formal mereka untuk bertahan di era saat ini. Penguasaan keterampilan tambahan di luar bidang studi menjadi syarat mutlak untuk tetap relevan.
ÔÇ£Tidak hanya bersandar kepada bidang pendidikan kita tetapi juga perlu ditambahkan dengan pengetahuan yang lain,ÔÇØ ujarnya Tadjuddin Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.