Presiden Prabowo Subianto memilih seekor sapi jenis simental seberat 900 kilogram dari seorang peternak di Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, untuk dijadikan hewan kurban pada perayaan Idul Adha, Senin (11/5/2026).
Sebagaimana dilansir dari Cahaya, sapi kurban berwarna cokelat tersebut dijadwalkan bakal disalurkan kepada masyarakat di wilayah Lebo, Kecamatan Gringsing, melalui masjid setempat. Penunjukan sapi milik peternak bernama Sugeng ini memicu perhatian publik lantaran bobotnya yang signifikan di atas rata-rata.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang, M Arief Edyanto, memberikan konfirmasi mengenai asal-usul dan tujuan penyaluran hewan kurban orang nomor satu di Indonesia tersebut.
"Bobotnya sekitar 900 kg dan itu punya peternak daerah Reban, atas nama Pak Sugeng. Informasinya, nanti ditetapkan untuk masjid di daerah Lebo, Gringsing," ungkap Kepala Bidang Peternakan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang M Arief Edyanto.
Pihak dinas menjelaskan bahwa proses transaksi dilakukan secara mandiri oleh pemilik sapi yang mengajukan penawaran harga langsung kepada pihak Sekretariat Presiden tanpa merinci nominal pastinya.
"Harganya memang lebih tinggi daripada per kilo yang umum, karena bobotnya khusus." ujar Arief.
Kenaikan harga ini dipicu oleh spesifikasi berat badan sapi yang melebihi standar hewan kurban pada umumnya di pasaran saat ini.
"Di atas 500 kilogram, itu sudah harga spesial, kisaran Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram," ungkapnya.
Arief memaparkan bahwa terdapat perbedaan harga yang cukup mencolok antara sapi berbobot jumbo dengan sapi lokal standar yang saat ini berada pada angka Rp 70 ribuan per kilogram berat hidup.
"(Harga) itu juga sudah naik dibanding hari biasa karena fenomena Iduladha memang biasanya ada kenaikan harga," ungkapnya.
Secara genetik, sapi pilihan presiden ini merupakan hasil persilangan berbagai ras unggulan atau multi-breeding yang menghasilkan karakteristik fisik yang unik.
"Jenisnya multi-breeding. Kepalanya simental, warnanya Charolais. Jadi perpaduan beberapa jenis." tutur Arief.
Kombinasi persilangan ini umumnya melibatkan jenis Peranakan Ongole (PO) dengan ras simental, limousin, atau charolais untuk mendapatkan postur tubuh yang maksimal.
"Biasanya, silangan PO dengan simental, PO dengan limousin atau charolais," tuturnya.
Terakhir, Arief memberikan catatan tambahan mengenai dinamika pasar hewan kurban di wilayahnya, terutama terkait tingginya minat masyarakat terhadap ras tertentu.
"Kalau PO biasanya memang lebih mahal," ungkapnya.