Aliran Sungai Cikundul di Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, dipenuhi tumpukan sampah rumah tangga yang membentuk gundukan luas hingga ke Muara Waduk Cirata pada Selasa (12/5). Fenomena yang meresahkan warga Kampung Maleber ini dilaporkan menimbulkan bau tidak sedap serta meningkatkan risiko banjir saat hujan deras melanda wilayah hulu.
Kondisi memprihatinkan ini terpantau jelas di bawah Jembatan Maleber, di mana limbah plastik dan sampah organik menyumbat aliran sungai hingga menyerupai daratan. Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, material sampah kiriman terus bertambah setiap hari seiring meningkatnya debit air sungai dari arah hulu.
Ketua RT 01 Kampung Maleber, Agus Gunawan, mengonfirmasi bahwa tumpukan sampah tersebut muncul secara konsisten setelah wilayah hulu Sungai Cikundul diguyur hujan lebat. Struktur jembatan menjadi titik hambat yang membuat limbah-limbah tersebut tertahan dan menumpuk secara masif.
"Jadi hampir setiap hari, tumpukan sampahnya terus bertambah. Karena kalau volume air naik setelah hujan, sampahnya tertahan badan Jembatan Maleber. Sehingga sampahnya menumpuk," kata Agus Gunawan, Ketua RT 01 Kampung Maleber.
Agus menambahkan bahwa keberadaan sampah ini telah mengubah wajah sungai menjadi sangat kumuh. Ia menyebut tumpukan tersebut kini tidak hanya sekadar mengapung di permukaan air, tetapi sudah mulai menggunung di area pinggiran sungai.
"Sudah seperti daratan sampah," kata Agus Gunawan.
Dampak dari akumulasi limbah ini sangat dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran sungai. Selain polusi udara, terdapat kecemasan kolektif mengenai ancaman luapan air sungai yang sewaktu-waktu bisa merendam permukiman warga jika saluran air tersumbat total.
"Setiap hari warga di dekat aliran sungai dibuat tidak nyaman dengan bau tumpukan sampahnya. Belum lagi risiko banjir jika hujan deras di hulu sampai ke hilir," kata Agus Gunawan.
Meskipun upaya pembersihan sempat dilakukan beberapa kali, Agus menyatakan bahwa tindakan tersebut belum membuahkan hasil permanen. Sampah baru selalu muncul kembali segera setelah proses evakuasi dilakukan akibat perilaku pembuangan sampah sembarangan di wilayah hulu.
"Jadi ada terus sampahnya, apalagi kalau setelah hujan deras. Tidak habis-habis. Karena dari hulu terus datang kiriman sampah akibat yang buang sampah sembarangan ke aliran sungai," kata Agus Gunawan.
Merespons situasi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur menyatakan telah mengambil langkah penanganan cepat. Fokus pembersihan diarahkan pada area hilir yang berdekatan dengan akses masuk ke perairan Waduk Cirata.
"Kami sudah tindaklanjuti terkait sampah di hilir Sungai Cikundul. Selama tiga hari kami angkut 6 ton sampah. 80 persennya sampah plastik, sisanya sampah organik," kata Komarudin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur.
Komarudin menekankan bahwa persoalan limbah ini merupakan masalah sistemik yang berkaitan dengan perilaku masyarakat di sepanjang bantaran sungai. Ia memberikan imbauan keras agar warga berhenti membuang sampah langsung ke badan sungai demi mencegah bencana di masa depan.
"Makanya untuk jangka panjang, kami imbau warga di bantaran sungai dari hulu agar tidak buang sampah sembarangan ke sungai. Karena dampaknya sangat terasa di warga bagian hilir sungai. Apalagi adanya risiko banjir juga. Kita sama-sama jaga lingkungan, agar bersih dan terhindar dari bencana banjir," kata Komarudin.