Pemerintah Rusia menaruh harapan tinggi pada agenda kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke China pada pekan ini. Juru bicara Kremlin menegaskan bahwa momentum tersebut akan digunakan oleh kedua belah pihak untuk memperdalam kemitraan strategis yang dinilai istimewa.
Seperti dikutip dari Reuters, Vladimir Putin dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke China selama dua hari, yaitu pada 19 dan 20 Mei 2026. Kunjungan ini berlangsung hanya berselang kurang dari seminggu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambangi Beijing untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping.
"Kami memiliki ekspektasi yang sangat serius dan besar terhadap kunjungan ini," ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam konferensi pers resmi yang dilansir dari Investor Daily.
Hubungan karib yang kerap dijuluki kemitraan tanpa batas antara China dan Rusia, negara produsen sumber daya alam terbesar di dunia, memang kian erat dalam beberapa tahun terakhir. Kedekatan ini semakin solid setelah negara-negara Barat menjatuhkan serangkaian sanksi ekonomi berlapis terhadap Rusia akibat konflik perang di Ukraina.
"Kami dan sekutu kami di China menyebut hubungan ini sebagai kemitraan yang sangat istimewa dan strategis," tambah Peskov.
Guna memastikan misi diplomatik ini berjalan maksimal, delegasi Rusia yang mendampingi Putin akan diisi oleh jajaran pejabat elit. Beberapa wakil perdana menteri, menteri kabinet, hingga para pimpinan perusahaan kakap Rusia dipastikan ikut serta.
Saat dicecar pertanyaan oleh awak media mengenai apakah agenda tersebut akan membahas rencana proyek pipa gas raksasa Power of Siberia 2, Peskov memberikan sinyal positif. Proyek bernilai strategis tersebut dirancang untuk mengalirkan tambahan bauran energi sebesar 50 miliar meter kubik per tahun dari ladang gas Arktik Rusia menuju China melalui jalur lintas Mongolia.
"Semua isu yang masuk ke dalam agenda ekonomi dari hubungan bilateral kedua negara tentu saja akan dibahas secara mendalam," pungkas Peskov.
Kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Beijing mencerminkan betapa krusialnya poros Moskow-Beijing dalam peta geopolitik dan ekonomi global saat ini. Sejak dijatuhi sanksi ekonomi berat oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa yang memutus akses pasar Eropa terhadap energi Rusia, Kremlin mengalihkan fokus perdagangan energinya secara besar-besaran ke wilayah Asia, dengan China sebagai konsumen utamanya.
Bagi Rusia, China adalah penyelamat ekonomi (economic lifeline) yang mampu menyerap komoditas minyak dan gas buminya. Sementara bagi China, aliansi ini memberikan jaminan pasokan energi jangka panjang yang murah dan aman melalui jalur darat, guna menyokong geliat industri domestiknya tanpa perlu khawatir terhadap gangguan blokade maritim.
Proyek pipa gas Power of Siberia 2 menjadi simbol ambisi kedua negara untuk melepaskan ketergantungan dari sistem keuangan dan pasar Barat. Sinergi ini sekaligus mempertegas peta kekuatan multipolar yang mereka galang bersama.