Kekhawatiran mendalam muncul dari pihak Rusia terkait pergerakan Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) di kawasan Asia Tengah. Pihak Barat ditengarai tengah gencar mengamankan akses terhadap logam tanah jarang (rare earth) serta mineral penting di wilayah tersebut.
Sikap tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Galuzin. Pernyataan ini muncul di tengah langkah negara-negara G7, termasuk AS dan UE, yang sedang aktif mencari alternatif pasokan baru guna memangkas ketergantungan global pada China.
Selama ini, China diketahui mendominasi rantai pasok logam tanah jarang yang menjadi bahan baku vital bagi teknologi kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga sistem pertahanan global. Langkah Barat ini dinilai mengancam posisi Moskow di kawasan sekitar perbatasannya.
Rusia memandang wilayah Asia Tengah yang kaya akan sumber daya alam, meliputi Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan, masih berada dalam lingkaran pengaruh mereka. Terlebih, kawasan ini juga sedang menarik perhatian besar dari China.
Dikutip dari harian Izvestia, wawancara yang dipublikasikan pada Rabu (20/5/2026) tersebut mengungkap kecurigaan mendalam dari pihak Moskow mengenai motif asli dari diplomasi ekonomi yang dilancarkan oleh Washington.
"Kami khawatir dengan intensitas Washington yang mendorong kesepakatan terkait mineral kritis dan logam tanah jarang," kata Galuzin.
Menurut Galuzin, aktivitas intensif tersebut tidak lagi bisa dilihat sebagai persaingan dagang yang wajar dalam pasar global.
"Ini bukan sekadar kompetisi ekonomi, tetapi upaya untuk mendorong Rusia keluar dan membangun infrastruktur yang dikendalikan Barat di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan kami," tambah Galuzin.
Perebutan pengaruh terhadap komoditas strategis ini sebenarnya telah diantisipasi sebelumnya oleh pihak Gedung Putih. Isu mengenai mineral kritis ini tercatat telah menjadi agenda prioritas utama bagi pemerintahan AS.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut mineral kritis sebagai prioritas utama saat menjamu para pemimpin lima negara Asia Tengah di Gedung Putih pada November lalu.
Dalam pertemuan tersebut, komitmen untuk mengamankan jalur pasokan domestik menjadi poin yang sangat ditekankan.
Ia menegaskan upaya pemerintahannya untuk memperluas dan mengamankan rantai pasok AS melalui berbagai kesepakatan global baru.