Duta Besar Federasi Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia memberikan pembelaan diplomatik atas keputusan Iran menutup Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan militer pada Selasa (28/4/2026). Nebenzia menegaskan bahwa langkah pembatasan navigasi tersebut merupakan hak kedaulatan Iran demi alasan keamanan wilayah perairan selama masa perang.
Sebagaimana dilansir dari Kompas, langkah penutupan jalur strategis ini terjadi setelah serangan tanpa provokasi oleh Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu. Agresi tersebut dilaporkan menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei serta ribuan korban jiwa lainnya.
Nebenzia menyatakan adanya tekanan politik internasional yang mencoba menyalahkan Teheran atas gangguan ekonomi dunia. Penutupan akses laut tersebut memang telah memicu lonjakan harga minyak global yang berdampak pada stabilitas ekonomi banyak negara.
"Terdapat upaya untuk menaruh pertanggungjawaban sepenuhnya kepada Iran seakan-akan Iranlah yang menyerang negara-negara tetanganya," kata Nebenzia, Duta Besar Federasi Rusia untuk PBB.
Diplomat senior Rusia tersebut menekankan bahwa tindakan Iran secara hukum internasional dapat dibenarkan mengingat status negara tersebut yang sedang diserang oleh kekuatan asing.
"Pada masa perang, sebuah negara pesisir yang diserang berhak membatasi navigasi di perairan teritorialnya dengan tujuan keamanan," kata Nebenzia, Duta Besar Federasi Rusia untuk PBB.
Selain membela Iran, Nebenzia melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Barat terkait standar ganda dalam hukum laut. Ia mengaitkan dukungan Barat terhadap operasi militer Ukraina di Laut Hitam sebagai bentuk tindakan ilegal yang menyerupai tindak kriminal di lautan.
"Tidak seperti bajak laut yang mengangkat bendera hitam dengan tengkorak dan tulang bersilang, negara-negara Barat berupaya menyembunyikan tindakan ilegalnya dengan kebijakan-kebijakan sepihak yang koersif," kata Nebenzia, Duta Besar Federasi Rusia untuk PBB.
Kondisi di Selat Hormuz sendiri terus bergejolak setelah sempat mengalami pembukaan singkat pada 8 April saat awal masa gencatan senjata. Namun, situasi kembali memanas setelah militer Amerika Serikat di bawah perintah Presiden Donald Trump menerapkan blokade total terhadap akses pelabuhan Iran sejak 13 April.