Pemerintah Rusia memberikan klarifikasi resmi pada Selasa (12/5/2026) mengenai spekulasi berakhirnya perang di Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memberikan sinyal penghentian konflik. Dilansir dari Investor Daily, pihak Moskow menegaskan belum terdapat langkah konkret atau rincian rencana perdamaian yang nyata hingga saat ini.
Ketidakpastian muncul akibat pernyataan Putin pada akhir pekan lalu yang menyebutkan bahwa perang sedang menuju akhir. Namun, Moskow dilaporkan tetap mempertahankan tuntutan maksimal terhadap Ukraina, yang menyebabkan proses negosiasi tetap berada dalam kebuntuan di tengah kebingungan komunitas internasional.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memberikan penjelasan lebih lanjut untuk meredam kebingungan tersebut. Ia menekankan bahwa posisi Rusia saat ini hanya bersifat terbuka terhadap komunikasi tanpa adanya poin-poin kesepakatan yang baru.
"Presiden hanya menyatakan, Rusia tetap terbuka untuk menjalin kontak. Namun, saat ini tidak mungkin untuk berbicara tentang rincian spesifik," ujar Peskov, Juru bicara Kremlin.
Peskov menginformasikan syarat bagi pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin kedua negara. Putin hanya bersedia menemui Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky jika agenda utamanya adalah penandatanganan kesepakatan damai yang bersifat final di luar wilayah Rusia.
Ketegangan militer justru kembali meningkat pasca berakhirnya masa jeda kemanusiaan selama tiga hari yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump. Kedua belah pihak segera meluncurkan serangan udara masif yang memakan korban jiwa dan merusak infrastruktur energi serta pemukiman warga.
"Gencatan senjata kemanusiaan telah berakhir. Operasi militer khusus terus berlanjut," tegas Peskov, Juru bicara Kremlin.
Pihak Ukraina melaporkan adanya serangan lebih dari 200 drone Rusia, sementara pihak Rusia mengklaim telah melumpuhkan 27 drone Ukraina di wilayah mereka. Kondisi ini memperparah kelelahan perang yang mulai terlihat di masyarakat Rusia, di mana perayaan Hari Kemenangan baru-baru ini diselenggarakan secara terbatas akibat ancaman keamanan.
Hambatan utama perdamaian tetap tertuju pada status semenanjung Krimea dan wilayah Donbas. Rusia menuntut penarikan pasukan Ukraina sebagai syarat mutlak, sedangkan Ukraina mendesak penarikan total seluruh militer Rusia dari wilayah kedaulatan mereka.