Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, DPR Desak Mitigasi Cepat di 2026

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, DPR Desak Mitigasi Cepat di 2026
Foto: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, DPR Desak Mitigasi Cepat di 2026. (Illustration by Pexels)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan yang signifikan sepanjang tahun ini. Pada transaksi hari Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda bahkan telah melewati level psikologis baru dengan menembus angka Rp 18.000 per dolar AS.

Kondisi ini menyusul penutupan perdagangan pada Rabu (3/6/2026) yang mencatatkan pelemahan sebesar 127,5 poin atau sekitar 0,71 persen. Saat itu, posisi rupiah berada di angka Rp 17.966 per dolar AS sebelum akhirnya terus merosot pada hari berikutnya.

Respons Tegas DPR Terhadap Pelemahan Rupiah

Menanggapi situasi ekonomi ini, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, memberikan peringatan keras kepada pemerintah. Ia meminta agar langkah-langkah mitigasi segera disusun dan diimplementasikan untuk mengatasi dampak dari menembusnya level Rp 18.000 tersebut.

Menurut Said, penurunan nilai tukar rupiah ini tidak hanya disebabkan oleh kondisi fundamental ekonomi nasional semata. Ia berpendapat bahwa secara teknis, nilai rupiah saat ini sudah berada jauh di bawah nilai wajarnya atau dalam kondisi undervalued.

Batas toleransi nilai tukar yang ideal menurut pandangan Banggar DPR RI adalah sebagai berikut:

  • Batas maksimal nilai tukar rupiah yang dianggap masih wajar seharusnya tidak melewati angka Rp 17.600 per dolar AS.
  • Pemerintah perlu segera melakukan perbaikan menyeluruh pada tata kelola berbagai sektor kebijakan ekonomi nasional.
  • Langkah mitigasi yang konkret sangat dibutuhkan untuk membangun kembali rasa optimisme di kalangan pelaku usaha dan investor.
  • Pembenahan kebijakan bertujuan agar kepercayaan pasar terhadap stabilitas perekonomian dalam negeri tetap terjaga di tengah tekanan global.

Said menekankan pentingnya kehadiran pemerintah dalam memberikan sinyal positif kepada pasar. Hal ini diharapkan dapat membendung pelemahan yang terjadi secara terus-menerus agar tidak semakin membebani perekonomian rakyat.

Rekor Terlemah dalam Sejarah Nilai Tukar

Data perdagangan menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih sangat kuat pada sesi pagi hari Kamis (4/6/2026). Tepat pada pukul 10.12 WIB, mata uang kebanggaan Indonesia ini sempat menyentuh angka Rp 18.019 per dolar AS.

Angka tersebut tercatat sebagai salah satu titik terlemah sepanjang sejarah pergerakan nilai tukar rupiah. Penembusan level psikologis ini menunjukkan betapa besarnya tekanan yang sedang dihadapi oleh stabilitas moneter Indonesia saat ini.

Beberapa faktor utama yang memicu penguatan dolar AS secara global meliputi poin-poin di bawah ini:

  • Meningkatnya ketidakpastian kondisi geopolitik dunia, terutama eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
  • Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dilaporkan sangat solid dan melampaui ekspektasi para pelaku pasar.
  • Survei Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan penguatan aktivitas pada sektor jasa di Amerika Serikat.
  • Kecenderungan investor yang beralih ke dolar AS sebagai aset aman (safe haven) di tengah situasi dunia yang penuh risiko.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa faktor eksternal memegang peranan dominan dalam pelemahan ini. Ketangguhan ekonomi AS membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sulit untuk bersaing di pasar global.

Prediksi Intervensi Agresif Bank Indonesia

Di sisi lain, sentimen dari dalam negeri dinilai belum cukup mumpuni untuk menahan laju penurunan rupiah. Tanpa dukungan sentimen domestik yang kuat, potensi pelemahan mata uang Garuda diprediksi masih akan berlanjut dalam periode jangka pendek.

Meskipun demikian, terdapat harapan bahwa Bank Indonesia (BI) tidak akan tinggal diam melihat kondisi ini. Otoritas moneter diperkirakan akan memperkuat langkah stabilisasi agar nilai tukar tidak semakin menjauh dari nilai fundamentalnya.

Ringkasan proyeksi pasar dan potensi tindakan otoritas moneter dalam waktu dekat:

Aspek Analisis Proyeksi dan Detail Informasi
Rentang Pergerakan Rupiah diprediksi fluktuatif di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS.
Langkah Bank Indonesia Berpotensi melakukan intervensi pasar secara agresif karena rupiah menembus level psikologis baru.
Fokus Investor Pelaku pasar terus memantau data ekonomi AS terbaru dan perkembangan konflik geopolitik.
Sentimen Domestik Kondisi pasar dalam negeri masih cenderung lemah dan membutuhkan stimulus kepercayaan.

Lukman Leong menambahkan bahwa intervensi agresif dari Bank Indonesia menjadi sangat krusial saat rupiah mendekati level psikologis Rp 18.000. Langkah ini penting dilakukan guna meredam kepanikan pasar dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Ke depannya, pergerakan nilai tukar masih akan sangat dinamis dan bergantung pada kebijakan bank sentral serta kondisi global. Para pelaku ekonomi kini tengah menantikan koordinasi lebih lanjut antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam memitigasi risiko ekonomi ini.

Artikel terkait

Rekomendasi