Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp 17.142 per Dollar AS

Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp 17.142 per Dollar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp 17.142 per Dollar AS.

Mata uang rupiah ditutup menguat tipis sebesar 26 poin atau 0,15 persen ke level Rp 17.142 per dollar AS pada perdagangan di pasar spot, Selasa (21/4/2026). Dilansir dari Money, apresiasi tipis mata uang Garuda ini terjadi saat pasar masih mencermati dinamika ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pergerakan nilai tukar ini dipengaruhi oleh ketidakpastian masa depan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar saat ini tengah memantau kelanjutan pembicaraan damai yang masih diwarnai sinyal yang bertolak belakang dari kedua belah pihak.

"Masa depan perang sebagian besar masih belum pasti, di tengah sinyal yang saling bertentangan tentang apakah pembicaraan damai AS-Iran lebih lanjut akan berlangsung," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Ibrahim menjelaskan bahwa meskipun ada laporan mengenai delegasi yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance akan menuju Pakistan, pihak Iran justru mengisyaratkan hambatan dalam perundingan. Teheran menyoroti blokade angkatan laut AS sebagai kendala utama meskipun tetap memberi sinyal komunikasi melalui mediator regional.

"Masa depan perang sebagian besar masih belum pasti, di tengah sinyal yang saling bertentangan tentang apakah pembicaraan damai AS-Iran lebih lanjut akan berlangsung," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Terlepas dari tekanan eksternal tersebut, kinerja ekonomi domestik Indonesia dinilai tetap kokoh dibandingkan dengan negara-negara anggota G20 lainnya. Ketahanan ini didukung oleh inflasi yang terkendali serta rasio utang yang tetap berada di bawah batas disiplin fiskal sebesar 3 persen terhadap produk bruto.

Ibrahim menegaskan bahwa langkah pemerintah dalam menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nasional. Pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penahan guncangan sangat krusial untuk melindungi daya beli masyarakat.

Selain faktor geopolitik, pasar sedang menantikan sidang konfirmasi pencalonan Warsh untuk kursi Federal Reserve pada pukul 10.00 ET. Isu mengenai independensi bank sentral dari pengaruh kebijakan suku bunga rendah yang didorong oleh Presiden Trump menjadi perhatian utama bagi investor global.

Artikel terkait

Rekomendasi