Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ditutup menguat 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp 17.168 pada perdagangan pasar spot Senin (20/4/2026). Penguatan terbatas ini terjadi di tengah laporan penutupan kembali Selat Hormuz akibat perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran, dilansir dari Money.
Eskalasi di kawasan tersebut dipicu oleh aksi saling tuduh terkait pelanggaran gencatan senjata selama akhir pekan. Kedua negara mengklaim pihak lawan telah melakukan serangan terhadap kapal-kapal kargo di jalur vital distribusi energi dunia tersebut.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan memuncak setelah militer Amerika Serikat melepaskan tembakan dan menangkap kapal Iran. Kapal tersebut dituding berupaya menghindari blokade yang diterapkan oleh pihak AS.
"Militer AS telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade, kata Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu, sementara Iran mengatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua pembicaraan damai meskipun Trump mengancam akan melakukan serangan udara lagi," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Penolakan Iran untuk melanjutkan dialog damai menambah ketidakpastian di Selat Hormuz yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia. Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade pelabuhan, sementara Iran sempat memberlakukan pembatasan lalu lintas kapal di jalur tersebut.
Dampak ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak hingga 7 persen pada awal pekan perdagangan. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran baru mengenai inflasi global yang didorong oleh kenaikan biaya energi sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Geopolitik yang memanas juga mempengaruhi proyeksi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Pasar kini mengantisipasi suku bunga akan bertahan di level tinggi dalam durasi yang lebih lama akibat tekanan inflasi energi dan ketidakstabilan global yang belum mereda.
Dana Moneter Internasional (IMF) turut menyoroti kondisi ini dengan memperingatkan pemerintah agar menjaga disiplin belanja negara. IMF menilai risiko resesi global dapat meningkat tajam apabila fasilitas energi di Timur Tengah mengalami kerusakan akibat konflik berkepanjangan.
Lembaga tersebut menekankan bahwa ruang fiskal pemerintah saat ini terbatas akibat beban utang publik yang meningkat. Kebijakan subsidi atau pembatasan harga secara luas dianggap berisiko menciptakan distorsi pasar dan menambah beban fiskal jika tidak dikelola secara presisi.
IMF menyarankan agar Bank Indonesia tidak terburu-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi domestik masih terkendali. Langkah moneter yang terlalu agresif dikhawatirkan dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian pasar global.