Rupiah Menguat ke Rp 17.700 per Dolar AS pada Senin Pagi

Rupiah Menguat ke Rp 17.700 per Dolar AS pada Senin Pagi
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat ke Rp 17.700 per Dolar AS pada Senin Pagi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak naik ke level Rp 17.700 pada perdagangan pasar spot Senin pagi, 25 Mei 2026 pukul 09.05 WIB. Mata uang Indonesia tersebut berhasil membalikkan keadaan dengan menguat sebanyak 17 poin atau sebesar 0,10 persen, seperti dilansir dari Investor Daily.

Penguatan mata uang Garuda terjadi beriringan dengan penurunan indeks dolar AS yang melemah 0,24 persen ke posisi 99.009. Kondisi pada Senin pagi ini menjadi pembalikan arah dari penutupan perdagangan hari Jumat, 22 Mei 2026, ketika rupiah sempat melemah 47 poin hingga terdepresiasi ke level Rp 17.716 per dolar AS.

Kemunduran nilai dolar AS dipicu oleh sentimen positif pasar internasional terkait adanya prospek kesepakatan damai antara pihak Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut meningkatkan minat risiko di pasar finansial, meskipun kejelasan mengenai pembukaan jalur perdagangan di Selat Hormuz hingga kini masih belum sepenuhnya teratasi.

Pelemahan aset aman dolar AS berimbas pada penguatan mata uang global lainnya di perdagangan awal, di mana euro menanjak 0,37 persen menjadi US$ 1,1646 per dolar AS dan yen Jepang bergerak menguat ke posisi 158,85 per dolar AS. Ketegangan konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama hampir tiga bulan sebelumnya sempat mendongkrak harga energi global sekaligus menggeser prospek suku bunga akibat kekhawatiran inflasi.

Kondisi pasar keuangan global ini turut mendapat perhatian dari pengamat pasar internasional yang mencermati perkembangan kesepakatan damai. Nick Twidal, Kepala analis pasar di ATFX Global, memperkirakan pergerakan pasar pada hari Senin akan cenderung mengambil lebih banyak risiko, namun penguatan signifikan belum akan terjadi sebelum kepastian pembukaan Selat Hormuz terkonfirmasi.

"Kita perlu melihat kesepakatan yang tercapai dalam sesi mendatang karena kita tahu masih ada beberapa poin penting yang belum terselesaikan," kata Nick Twidal.

Artikel terkait

Rekomendasi