Nilai tukar rupiah di pasar spot merosot sendirian di Asia hingga ditutup pada level Rp 17.744 per dolar AS pada perdagangan Senin (25/5/2026). Dilansir dari Suara, mata uang Indonesia melemah 27 poin atau 0,15 persen dari penutupan sebelumnya akibat defisit anggaran internal yang melebar.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan mata uang negara-negara Asia lainnya yang justru kompak menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,5 persen, diikuti peso Filipina sebesar 0,37 persen, rupee India 0,36 persen, ringgit Malaysia 0,32 persen, dan dolar Taiwan 0,33 persen.
Apresiasi juga dialami won Korea Selatan dan yuan China sebesar 0,19 persen, dolar Singapura 0,18 persen, yen Jepang 0,12 persen, serta dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01 persen. Penguatan massal ini dipicu oleh penurunan harga minyak dunia hingga hampir 5 persen setelah adanya prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz pekan ini atau pekan depan.
Meskipun komoditas minyak dunia melemah, nilai tukar rupiah tetap tidak mampu memanfaatkan momentum positif tersebut karena terbebani oleh sentimen domestik.
"Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah," kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi di Jakarta.
Menurut penjelasan Ibrahim, faktor utama yang terus menekan pergerakan mata uang garuda berasal dari permasalahan internal, khususnya terkait defisit fiskal atau anggaran pemerintah yang masih membayangi pasar keuangan.
Di sisi lain, kondisi makroekonomi yang mencatatkan rekor negatif dalam beberapa tahun terakhir turut memperparah tekanan terhadap mata uang lokal.
"Tekanan juga datang dari defisit neraca transaksi berjalan kuartal satu yang terbesar dalam lebih dari 6 tahun. Prospek kenaikan suku bunga BI dalam satu atau dua pertemuan ke depan juga membuat investor masih menghindari SBN," kata analis Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Kerapuhan sentimen pasar di dalam negeri membuat posisi rupiah kian tidak menguntungkan di mata para investor global saat ini.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen pasar yang masih rapuh walau indeks dolar AS sendiri terpantau turun oleh harapan pembukaan kembali selat Hormuz," jelas Lukman.