Mata uang rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 8 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 16.633 pada perdagangan Rabu (3/12/2025). Penurunan ini mengakhiri tren penguatan rupiah yang sempat terjadi selama dua hari sebelumnya berdasarkan data Bloomberg.
Kondisi ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,11 persen ke level 99,25, sebagaimana dilansir dari Investortrust. Meskipun dolar AS terkoreksi terhadap euro, poundsterling, yen Jepang, dan yuan China, rupiah justru tidak mengikuti tren penguatan mayoritas mata uang tersebut.
Beberapa mata uang di kawasan Asia Tenggara terpantau bergerak menguat, termasuk dolar Singapura sebesar 0,06 persen dan ringgit Malaysia sebesar 0,05 persen. Baht Thailand mencatatkan kenaikan tertinggi di kawasan dengan penguatan sebesar 0,29 persen terhadap dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memberikan penegasan bahwa sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat. Ekspektasi mengenai pergantian kepemimpinan di bank sentral AS turut menjadi faktor utama yang membebani pergerakan indeks dolar.
"Indeks dolar AS masih tertekan seputar prospek kepala The Fed baru dan pemangkasan suku bunga," ujar Lukman.
Proyeksi pasar menunjukkan adanya potensi penguatan rupiah secara terbatas sembari menantikan rilis indikator ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Saat ini, aktivitas manufaktur AS melalui data PMI S&P tercatat berada di level 52,2 pada November 2025 yang menandakan fase ekspansi yang melambat.
Sektor obligasi dalam negeri menunjukkan kenaikan imbal hasil (yield) tenor 10 tahun sebesar 2,2 basis poin menjadi 6,3 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah global untuk tenor yang sama juga mengalami peningkatan sebesar 2,6 basis poin ke angka 4,9 persen.