Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, memberikan pandangan mendalam terkait fenomena pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan konsumsi pemerintah. Menurutnya, dinamika ekonomi yang terjadi saat ini tidak boleh dilihat secara sepihak atau hanya dari satu sudut pandang saja.
Azis menekankan bahwa opini yang menyebut ekonomi Indonesia hanya ditopang oleh belanja negara merupakan kesimpulan yang kurang tepat. Ia menilai pandangan tersebut mengabaikan fakta penting mengenai peran masif konsumsi rumah tangga dalam menggerakkan roda ekonomi nasional.
Pernyataan Azis Subekti mengenai struktur ekonomi nasional:
- Ekonomi nasional tidak hanya berdiri di atas satu pondasi saja.
- Aktivitas masyarakat dan dunia usaha menjadi pilar utama pertumbuhan.
- Kebijakan negara berfungsi sebagai pelengkap dalam ekosistem ekonomi.
- Publik diharapkan melihat data secara komprehensif, bukan hanya satu indikator.
Ia menegaskan bahwa kombinasi antara pergerakan masyarakat, iklim usaha, serta kebijakan pemerintah adalah kunci pertumbuhan. Hal inilah yang membuat ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang cukup kuat menghadapi berbagai tantangan.
Konsumsi Rumah Tangga Tetap Menjadi Motor Utama
Azis memberikan catatan khusus mengenai data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen pada Kuartal I 2026. Meski angka pertumbuhan tersebut terlihat sangat tinggi, hal itu tidak secara otomatis menggeser peran utama sektor swasta.
Ia menjelaskan bahwa dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, kontribusi belanja negara sebenarnya masih tergolong kecil. Sebaliknya, porsi konsumsi masyarakat tetap mendominasi sebagian besar aktivitas ekonomi di tanah air secara keseluruhan.
Berikut adalah perbandingan kontribusi sektor-sektor terhadap ekonomi nasional:
| Komponen Ekonomi | Porsi dalam Struktur PDB | Kontribusi Pertumbuhan (Poin) |
|---|---|---|
| Konsumsi Rumah Tangga | Sekitar 54% | 2,94 Poin |
| Investasi | - | 1,79 Poin |
| Konsumsi Pemerintah | Sekitar 6,7% | 1,26 Poin |
Data di atas menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak bergantung pada satu faktor tunggal melainkan sinergi berbagai elemen. Kekuatan utama bangsa ini terletak pada pasar domestik yang sangat besar serta aktivitas ekonomi rakyat yang konsisten setiap harinya.
Pelemahan Rupiah dan Tekanan Global
Meskipun menaruh rasa optimis terhadap kekuatan domestik, Azis tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap gejolak global. Ia menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan dunia yang kian rumit.
Menurut Azis, variabel ekonomi seperti arus modal, pasar obligasi, hingga suku bunga internasional saat ini saling berkaitan erat. Perubahan kecil pada satu aspek global dapat memberikan dampak langsung terhadap sentimen investor di dalam negeri.
Ia menambahkan bahwa saat risiko global meningkat, investor cenderung menarik modal mereka dari negara berkembang. Situasi ini secara otomatis akan memberikan tekanan pada mata uang lokal serta menyempitkan ruang fiskal yang dimiliki pemerintah.
Faktor-faktor yang memengaruhi penilaian pasar internasional:
- Kedisiplinan pemerintah dalam mengelola kebijakan fiskal dan moneter.
- Konsistensi antara regulasi yang dibuat dengan implementasi di lapangan.
- Kredibilitas otoritas keuangan dalam menghadapi ketidakpastian global.
- Kemampuan negara dalam memprediksi dan beradaptasi dengan masa depan.
Azis menilai bahwa pasar modern saat ini tidak hanya sekadar melihat deretan angka statistik. Mereka lebih banyak membaca bagaimana sebuah negara menjaga arah kebijakannya secara konsisten dan transparan bagi publik luas.
Keseimbangan Antara Pasar dan Kesejahteraan Rakyat
Tantangan terbesar bagi pemerintah saat ini adalah bagaimana menjaga harmoni antara ekspektasi pasar dan kebutuhan masyarakat. Azis mengibaratkan bahwa pasar dan rakyat memiliki fungsi yang saling melengkapi namun memiliki karakter yang berbeda.
Pasar berperan dalam menyediakan likuiditas dan modal yang dibutuhkan untuk pembangunan skala besar. Di sisi lain, rakyat adalah pihak yang menyediakan permintaan dan memastikan keberlangsungan denyut nadi ekonomi melalui daya tahan mereka.
Langkah strategis untuk memperkuat ekonomi akar rumput:
- Mendorong UMKM agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas.
- Mentransformasi koperasi menjadi lembaga ekonomi yang dikelola secara modern.
- Memastikan petani mendapatkan akses terhadap teknologi pertanian terkini.
- Menghubungkan nelayan dengan rantai pasok distribusi yang lebih efisien dan menguntungkan.
Ia berpesan agar negara tidak hanya fokus mengejar penilaian positif dari pasar global atau investor asing semata. Fokus utama harus tetap diberikan pada peningkatan produktivitas rakyat agar menciptakan nilai tambah yang nyata bagi kesejahteraan.
Menurut pandangannya, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat berupa masyarakat yang adaptif terhadap perubahan. Ekonomi kerakyatan telah terbukti berkali-kali menjadi bantalan yang efektif saat dunia tengah dilanda krisis ekonomi yang hebat.
Sebagai penutup, Azis menekankan bahwa meskipun penilaian pasar sangat penting bagi citra negara, namun kedaulatan ekonomi sesungguhnya berada di tangan rakyat. Rakyatlah yang pada akhirnya menentukan arah dan keberlanjutan masa depan bangsa ini.