Nilai tukar rupiah mengalami koreksi sebesar 49 poin hingga menyentuh level Rp17.382 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan moneter global.
Kondisi pasar keuangan yang bergejolak membuat mata uang Garuda tertekan dari posisi sebelumnya di level Rp17.359 per dolar AS sebagaimana dilansir dari Market. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyoroti memanasnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran sebagai faktor utama.
"Rupiah ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.359 per dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Ketegangan antara dua negara tersebut memicu kekhawatiran mengenai terganggunya rantai pasok energi internasional. Fokus utama investor tertuju pada keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.
"Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya," katanya.
Sentimen negatif juga datang dari internal bank sentral AS terkait proyeksi suku bunga acuan ke depan. Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack memberikan sinyal bahwa kebijakan suku bunga tinggi masih akan dipertahankan untuk mengontrol inflasi.
Di dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh publikasi data utang pemerintah yang menembus angka Rp9.920,42 triliun per akhir Maret 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan hampir 3 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2025.
Posisi utang tersebut setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), namun pemerintah mengeklaim rasio ini masih di bawah batas aman internasional. Di sisi lain, APBN mencatatkan defisit anggaran sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB pada kuartal pertama tahun ini.
Proyeksi nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada pembukaan pekan depan. Ibrahim memprediksi pergerakan mata uang akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah lebih lanjut.