Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Harga Properti Nasional

Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Harga Properti Nasional
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Harga Properti Nasional.

Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan memicu kenaikan harga jual properti akibat meningkatnya biaya material konstruksi. Fenomena ini diperkirakan berdampak langsung pada beban produksi pengembang di berbagai wilayah Indonesia pada Rabu (6/5/2026).

Dilansir dari Ekonomi, fluktuasi kurs mata uang memiliki hubungan erat dengan beban produksi sektor perumahan. Komponen bahan bangunan yang masih mengandalkan pasar global menjadi pemicu utama penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Pengamat Properti, Anton Sitorus menilai segmen hunian untuk kelas menengah dan menengah bawah menjadi kelompok yang paling terdampak. Kenaikan harga bahan baku utama akan memaksa pengembang melakukan penyesuaian nilai jual produk mereka.

"Dampaknya pasti ke harga. Kalau misalnya rupiah melemah dan biaya material naik, pengembang pasti akan membebankan kenaikan tersebut ke harga jual," ujar Anton Sitorus, Pengamat Properti.

Anton menjelaskan bahwa meskipun ada tekanan harga, sektor hunian mewah atau kelas atas cenderung memiliki ketahanan yang lebih kuat. Konsumen di segmen ini dinilai tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga pasar.

ÔÇ£Jadi mungkin akan naik dikit-dikit. Jadi kalau yang high-end, kalau menurut saya nggak terlalu terpengaruh, tapi yang middle sama middle-low ini yang mungkin terpengaruh, terutama harga baja sama semen kan itu komponen exchange rate-nya lumayan gede,ÔÇØ imbuh Anton Sitorus, Pengamat Properti.

Berdasarkan data RTI Infokom pada Selasa (5/5/2026) pukul 09.15 WIB, kurs rupiah mengalami koreksi sebesar 0,09 persen ke level Rp17.400 per dolar AS. Pergerakan mata uang Garuda tercatat sempat berada di rentang Rp17.385 hingga Rp17.401 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan bahwa posisi nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Pihaknya optimistis stabilitas nilai tukar akan kembali menguat didorong oleh fundamental ekonomi yang terjaga.

"Tadi dibahas dan mendapatkan arahan dari Bapak Presiden mengenai nilai tukar. Berkaitan dengan dua hal penting mengenai nilai tukar," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Perry usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Istana Merdeka. Pemerintah terus memantau dampak dinamika kurs terhadap sektor riil termasuk properti.

Artikel terkait

Rekomendasi