Bisnis layanan lindung nilai yang biasa dikenal sebagai hedging mengalami peningkatan permintaan signifikan dari nasabah kalangan atas, menyusul posisi rupiah yang terus melemah. Hedging merupakan layanan yang biasanya ditawarkan bank kepada nasabah untuk melindungi nilai aset dari fluktuasi mata uang, sehingga nilainya tetap terjaga meski terjadi perubahan nilai tukar.
Pada hari Jumat (29/5/2026), nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga mencapai Rp 17.881 per dolar Amerika Serikat. Tren penurunan ini membuka peluang bagi perbankan untuk meningkatkan bisnis hedging mereka. Ekonom dari Bank Tabungan Negara, Myrdal Gunarto, menyebutkan bahwa permintaan hedging naik tajam di sektor-sektor yang berhubungan dengan ekspor-impor di tengah kondisi rupiah yang melemah.
Myrdal Gunarto Berkomentar:
"Bisnis hedging ini merupakan peluang menguntungkan bagi bank, terutama di masa penuh ketidakpastian seperti sekarang," ungkap Myrdal pada hari Kamis (28/5/2026). Hedging sudah menjadi kebutuhan untuk perusahaan di sektor minyak dan gas, manufaktur, serta tekstil dan pangan yang bergantung pada bahan baku impor.
Menurut Myrdal, sistem hedging perbankan saat ini lebih optimal dibandingkan kondisi saat krisis moneter 1998. Kondisi ini menjamin dana nasabah korporasi lebih aman serta mendukung ekspansi bisnis. Myrdal juga menegaskan bahwa bank dengan sistem hedging yang baik harus siap memanfaatkannya untuk meningkatkan pendapatan dari komisi atau fee-based income (FBI).
Pendekatan PT Bank SMBC Indonesia Tbk:
PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) kini semakin memusatkan perhatian untuk menggenjot pertumbuhan FBI salah satunya melalui usaha hedging. Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, mengungkapkan bahwa permintaan hedging saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
"Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya tidak melakukan hedging kini mulai menyadari keuntungan dari layanan ini," kata Henoch.Untuk mendukung layanan ini, SMBC Indonesia melakukan stress test guna mengukur kemampuan menjaga nilai tukar. Ini penting dalam mitigasi dampak kenaikan BI Rate.
Henoch juga menyatakan bahwa bank sedang berfokus meningkatkan pemasukan dari FBI karena tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga. Laporan keuangan per April 2026 menunjukkan pendapatan komisi SMBC naik 6,43% year-on-year menjadi Rp 327,86 miliar.
Sikap PT Bank Central Asia Tbk (BCA):
EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn, berpendapat bahwa permintaan hedging sangat bergantung pada kebutuhan nasabah untuk melindungi nilai aset. BCA selalu siap untuk memberikan layanan hedging kepada nasabah.
Hera menambahkan bahwa pendapatan dari layanan hedging juga berkontribusi positif terhadap peningkatan FBI bank. Berdasarkan laporan keuangan per April 2026, BCA melaporkan pendapatan komisi yang tumbuh 9,51% year-on-year menjadi Rp 6,72 triliun.
"BCA berkomitmen melayani berbagai kebutuhan nasabah, termasuk kebutuhan lindung nilai dari risiko nilai tukar," ujar Hera.