Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jakarta mengeluhkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang memicu kenaikan harga bahan baku impor. Berdasarkan laporan Money, nilai tukar rupiah merosot hingga Rp 17.529 pada penutupan perdagangan pasar spot, Selasa (12/5/2026).
Kondisi ini menyentuh level terendah sepanjang sejarah yang diduga akibat ketegangan geopolitik di Asia Barat. Dampaknya langsung dirasakan oleh pengrajin tempe di Kebayoran, Maghfiroh (43), yang menghadapi kenaikan harga kedelai sebagai komoditas impor utama.
"Kan sudah pernah sampai empat belas ribu juga. Sudah pernah sampai berapa bulan itu kita enggak ada untung sama sekali buat makan doang, enggak ada sisa," kata Maghfiroh saat ditemui di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (13/5/2026).
Setiap harinya, Maghfiroh mengolah sekitar 70 hingga 75 kilogram tempe untuk dijual. Ia menjelaskan bahwa harga kedelai mengalami kenaikan rutin sebesar Rp 500 per kilogram atau Rp 5.000 per kuintal setiap kali ia berbelanja bahan baku.
"Jadi kalau kita belanjanya kan per ton, per tonnya berarti naiknya lima puluh ribu," ujar Maghfiroh.
Kenaikan biaya produksi ini diperparah dengan lonjakan harga plastik akibat gangguan pasokan nafta dari Asia Barat. Meski beban modal membengkak, Maghfiroh memilih untuk tidak mengubah harga jual maupun ukuran produk demi menjaga loyalitas pelanggan setianya.
"Pelanggan kalau dikecilin enggak mau, ditipisin juga dia enggak mau. Jadi kita kualitas tetap sama, harga tetap sama, jadi untungnya yang berkurang," tutur Maghfiroh.
Keresahan serupa disampaikan oleh Nurhayati (63), seorang pemilik warung makan yang mulai merasakan kenaikan harga bumbu dapur impor. Ia memantau pergerakan nilai tukar yang sempat menyentuh angka Rp 17.400 sebelum akhirnya merosot lebih dalam ke level Rp 17.500-an.
"Tapi kami butuh, mau enggak mau kita harus perlu, kita juga mencari nafkah untuk menjual lagi, jualan apa gitu kan membutuhkan barang-barang ini," ujar Nurhayati di Pasar Palmerah.
Nurhayati berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga komoditas pangan di pasar. Ia mengaku khawatir jika tren pelemahan mata uang ini terus berlanjut tanpa ada kepastian kapan situasi akan membaik.
"Masih dalam kondisi agak-agak khawatir memang. Terus gimana ke depannya apakah bisa turun apa mau bagaimananya saya enggak tahu," kata Nurhayati.
Di sisi lain, Karsito (70), seorang pedagang tahu di pasar yang sama, memilih untuk bersikap pasrah terhadap gejolak ekonomi saat ini. Berbeda dengan produsen, Karsito hanya mengambil barang jadi dari pabrik untuk kemudian dipasarkan kembali kepada konsumen.
"Jualnya dari tahun ini, tahun 2025 juga masih sama, Rp 5.000," ujar Karsito.
Pria asal Pekalongan ini menyatakan akan terus berjualan selama kondisi memungkinkan, meski ia menyadari risiko pedagang akan gulung tikar jika harga terus melonjak. Saat ini, ia tetap mempertahankan harga lama yang sudah dipatok sejak tahun 2025.
"Ya terserah saja lah. Harga mahal ya tentunya ikut mahal, harga murah ya ikut murah," kata Karsito.