Rupiah Kian Tertekan, Pengamat Prediksi Tembus 17.900 per USD di 2026

Rupiah Kian Tertekan, Pengamat Prediksi Tembus 17.900 per USD di 2026
Foto: Rupiah Kian Tertekan, Pengamat Prediksi Tembus 17.900 per USD di 2026. (Illustration by Pexels)

Nilai tukar rupiah terpantau masih berada dalam tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Selasa pagi. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor ketidakpastian geopolitik di tingkat global serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap situasi ekonomi di dalam negeri.

Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (2/6/2026) pagi, mata uang Garuda mengalami koreksi sebesar 54,50 poin atau setara 0,31 persen. Posisi ini membawa rupiah ke level Rp17.859 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.805 per dolar AS.

Analisis Penyebab Pelemahan Rupiah

Rully Nova, seorang analis dari Bank Woori Saudara, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini masih didominasi oleh isu global. Salah satu pemicu utamanya adalah ketidakpastian mengenai penyelesaian konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada penguatan indeks dolar AS yang kini mulai mendekati level psikologis 100. Selain itu, ketegangan ini juga memicu ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional.

Faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah menurut analis :

  • Risiko geopolitik global akibat ketidakpastian kesepakatan damai antara AS dan Iran.
  • Kenaikan indeks dolar AS yang mulai mendekati angka 100 poin.
  • Lonjakan ekspektasi harga minyak dunia yang berdampak pada ekonomi global.
  • Tantangan fiskal pemerintah Indonesia dan ketidakpastian arah kebijakan domestik.
  • Tren inflasi di dalam negeri yang diprediksi masih akan terus berlanjut.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar saat ini sangat sensitif terhadap isu energi dan stabilitas politik dunia. Rully memprediksi rupiah hari ini akan bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Dampak Ketegangan di Selat Hormuz

Senada dengan pandangan tersebut, Lukman Leong yang merupakan analis mata uang dari Doo Financial Futures turut memberikan sorotannya. Ia menyebutkan bahwa pelemahan rupiah berlanjut setelah adanya pernyataan tegas dari pihak Iran.

Iran dikabarkan telah menghentikan proses perundingan damai dengan Amerika Serikat secara sepihak. Tidak hanya itu, Teheran juga berencana untuk menutup total akses di Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Perlu dipahami bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling krusial bagi perdagangan dunia. Jika jalur ini benar-benar ditutup, maka pasokan minyak global akan terganggu secara signifikan dan memicu kenaikan harga yang tajam.

Situasi genting ini memaksa para investor untuk mengalihkan modal mereka ke aset-aset yang dinilai lebih aman atau safe haven. Dalam hal ini, dolar Amerika Serikat menjadi pilihan utama sehingga nilainya terus terkerek naik dan menekan mata uang negara berkembang.

Data Ekonomi Amerika Serikat Memperparah Keadaan

Selain faktor konflik bersenjata, penguatan dolar AS juga mendapat dukungan kuat dari data ekonomi internal mereka. Laporan sektor manufaktur di Amerika Serikat tercatat menunjukkan performa yang jauh lebih baik daripada ekspektasi awal para analis.

Kondisi ekonomi AS yang tetap solid di tengah ketidakpastian global memberikan alasan bagi pasar untuk terus memegang dolar. Hal ini membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi semakin berat untuk dihindari dalam jangka pendek.

Berikut adalah ringkasan proyeksi nilai tukar rupiah berdasarkan analisis pasar :

Sumber Analis Prediksi Rentang Kurs (Per USD) Faktor Penentu Utama
Rully Nova (Bank Woori Saudara) Rp17.800 - Rp17.950 Geopolitik AS-Iran & Indeks Dolar
Lukman Leong (Doo Financial) Rp17.800 - Rp17.900 Penutupan Selat Hormuz & Data Manufaktur AS

Tabel di atas merangkum pandangan para ahli mengenai batas pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini. Keduanya sepakat bahwa risiko pelemahan masih sangat terbuka lebar mengingat situasi global yang belum kondusif.

Untuk saat ini, pasar masih akan terus memantau perkembangan di Timur Tengah dan data ekonomi domestik terbaru. Para pelaku usaha pun diharapkan waspada terhadap potensi rupiah yang bisa menembus angka Rp17.900 jika kondisi tidak segera membaik.

Di sisi lain, pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan dapat mengambil langkah strategis untuk meredam volatilitas yang berlebihan. Stabilitas nilai tukar menjadi kunci penting agar beban impor dan tingkat inflasi di dalam negeri tetap terkendali.

Artikel terkait

Rekomendasi