Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami penurunan yang cukup tajam pada pembukaan sesi perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.
Mata uang Garuda ini dibuka melemah sebesar 39 poin ke posisi Rp17.878 per dolar AS, namun tekanan pasar terus berlanjut hingga sempat menyentuh level Rp17.926.
Penyebab Utama Pelemahan Rupiah
Kombinasi faktor internal dan eksternal menjadi pemicu utama merosotnya nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global yang sedang berlangsung saat ini.
Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya perselisihan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data pasar yang dihimpun pada hari ini:
- Nilai rupiah tercatat melemah 0,22 persen atau sekitar 39 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.839 per dolar AS.
- Data dari platform RTI menunjukkan fluktuasi dolar AS terhadap rupiah berada pada kisaran angka Rp17.915 di tengah sesi berjalan.
- Pelemahan ini terus membayangi rupiah hingga hampir menyentuh level psikologis baru di angka Rp18.000 per dolar AS.
- Sentimen pasar masih terlihat negatif seiring dengan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri dalam waktu singkat.
Data angka tersebut menunjukkan betapa besarnya tekanan terhadap mata uang domestik akibat situasi global yang tidak menentu.
Dampak Harga Minyak Global dan Ketegangan Geopolitik
Ibrahim Assuaibi, seorang Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, memberikan analisis mendalam mengenai faktor-faktor yang mendorong penguatan dolar AS terhadap rupiah.
Menurutnya, kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu beban berat bagi posisi rupiah dalam perdagangan internasional.
Berikut adalah ringkasan pergerakan harga minyak dunia yang mempengaruhi kurs:
| Jenis Minyak Mentah | Harga Terkini (per Barel) |
|---|---|
| West Texas Intermediate (WTI) | US$ 94,58 |
| Brent Crude Oil | US$ 96,72 |
Kenaikan harga minyak di pasar global ini secara otomatis menaikkan biaya impor energi bagi Indonesia, yang membutuhkan ketersediaan dolar dalam jumlah besar.
Ibrahim menjelaskan bahwa saat ini rupiah sudah mengalami pelemahan hingga 82 poin ke level Rp17.921 seiring dengan kenaikan harga minyak WTI dan Brent.
Kenaikan biaya komoditas ini tidak lepas dari memanasnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran terkait program pengayaan uranium.
Selain masalah uranium, pasar juga mencermati potensi konfrontasi militer yang lebih luas antara Iran dan Israel di wilayah Lebanon Selatan.
Eskalasi konflik bersenjata ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan terus mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.
Kebijakan Suku Bunga The Fed dan Inflasi
Ketidakpastian geopolitik tersebut berdampak langsung pada kenaikan biaya energi, transportasi, dan logistik yang memicu lonjakan inflasi di Amerika Serikat.
Kondisi inflasi yang belum stabil membuat para pelaku pasar berspekulasi mengenai langkah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral AS.
Ibrahim menilai bahwa The Federal Reserve (The Fed) kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga di level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Ada potensi kuat bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun 2026 jika tekanan inflasi domestik mereka belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Tekanan dari Sektor Domestik
Dari sisi dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia memaksa korporasi untuk menyediakan lebih banyak dolar AS guna membiayai kebutuhan impor energi nasional.
Tekanan semakin berat karena periode ini bertepatan dengan jadwal pembayaran dividen oleh perusahaan asing kepada pemegang saham di luar negeri.
Selain kewajiban dividen, terdapat pula kebutuhan devisa yang cukup besar untuk melunasi berbagai kewajiban utang luar negeri yang telah jatuh tempo.
Besarnya permintaan terhadap mata uang dolar ini tidak diimbangi dengan ketersediaan likuiditas yang cukup, sehingga nilai tukar rupiah terus tergerus.
Ibrahim juga mengamati adanya perubahan perilaku di tengah masyarakat yang mulai mengalihkan aset kekayaan mereka demi menjaga nilai ekonomi.
Banyak nasabah yang kini memindahkan dana mereka dari tabungan rupiah konvensional ke dalam bentuk tabungan valuta asing atau valas.
Fenomena perpindahan dana secara masif ini menambah beban permintaan dolar di pasar domestik dan memperparah pelemahan nilai tukar rupiah.
Sentimen negatif ini diprediksi masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan selama faktor-faktor risiko tersebut belum mereda.