Mata uang rupiah masuk dalam jajaran sepuluh mata uang terlemah di dunia per 7 April 2026 berdasarkan data yang dirilis oleh Forbes. Posisi rupiah berada di peringkat kelima global dengan nilai tukar menyentuh kisaran Rp 17.066 per dollar Amerika Serikat (AS).
Pemeringkatan yang disusun berdasarkan nilai tukar terhadap dollar AS ini menggunakan data dari open exchange, sebagaimana dilansir dari Money. Urutan tersebut ditentukan oleh jumlah unit mata uang lokal yang dibutuhkan untuk menyamai nilai satu dollar AS.
Forbes menyoroti bahwa meski Indonesia memiliki PDB terbesar di Asia Tenggara karena sektor jasa dan kekayaan komoditas, mata uang nasionalnya mengalami penurunan nilai. Fenomena ini dipicu oleh perpaduan antara tingkat inflasi yang tinggi serta kekhawatiran terhadap resesi ekonomi.
"Dalam hal PDB, negara ini (Indonesia) merupakan yang terbesar di Asia Tenggara terutama berkat sektor jasanya. Indonesia juga kaya akan komoditas, tetapi mata uang nasionalnya telah merosot dibandingkan dengan negara lain karena kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi," tulis Forbes.
Rial Iran menempati urutan pertama mata uang terlemah dengan kurs mencapai 1.315.800 rial per satu dollar AS. Posisi kedua hingga keempat secara berurutan diisi oleh pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos.
| Peringkat | Mata Uang | Nilai Tukar per 1 Dollar AS |
|---|---|---|
| 1 | Rial Iran | 1.315.800 |
| 2 | Pound Lebanon | 89.565,64 |
| 3 | Dong Vietnam | 26.336,58 |
| 4 | Kip Laos | 22.065,41 |
| 5 | Rupiah Indonesia | 17.066 |
| 6 | Som Uzbekistan | - |
| 7 | Franc Guinea | - |
| 8 | Franc Burundi | - |
| 9 | Ariary Madagaskar | - |
| 10 | Guarani Paraguay | - |
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memberikan catatan kritis mengenai metodologi yang digunakan. Ia menilai pendekatan nominal semata tidak mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi suatu negara secara utuh.
"Menurut saya, pernyataan Forbes itu benar hanya dalam arti yang sangat sempit, yaitu dari sisi nominal kurs per 1 dollar AS, bukan dari sisi kekuatan fundamental mata uang," ujar Josua Pardede.
Pardede menjelaskan bahwa mata uang dengan denominasi besar akan selalu terlihat lemah jika hanya dilihat dari angka nominalnya. Padahal, data Bloomberg menunjukkan depresiasi rupiah masih lebih terkendali dibandingkan dengan kinerja mata uang negara-negara lain.
"Jadi secara nominal rupiah termasuk mata uang berdenominasi besar, tetapi secara kinerja dan fundamental, kesimpulan Forbes sangat menyesatkan bila dibaca tanpa konteks," tegas Josua.
Indikator Real Effective Exchange Rate (REER) menunjukkan bahwa posisi rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah level 100 atau cenderung undervalued. Secara fundamental, ekonomi domestik tetap tumbuh 5,11 persen pada 2025 dengan inflasi Maret 2026 terkendali di angka 3,48 persen.
"Jadi, kalau membaca rupiah dari kacamata REER, pertumbuhan, cadangan devisa, investasi, dan ketahanan sistem keuangan, rupiah lebih tepat disebut sedang tertekan oleh sentimen global, bukan mata uang yang rusak secara fundamental," ungkap Josua.
Tekanan eksternal yang dimaksud meliputi ketidakpastian perang dagang, ketegangan geopolitik, serta arah suku bunga global. Hal ini menyebabkan aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia yang mencatatkan outflow portofolio sebesar 2,98 miliar dollar AS pada Maret 2026.
"Jadi, level rupiah di atas Rp 17.000 sekarang lebih mencerminkan harga risiko global yang tinggi, mahalnya energi, dan permintaan dollar AS yang naik, bukan cerminan bahwa ekonomi Indonesia lemah," kata Josua.
Meski situasi masih fluktuatif, melandainya harga minyak mentah Brent dan pelemahan Dollar Spot Index memberikan harapan penguatan rupiah. Meredanya ketegangan antara AS dan Iran diperkirakan dapat membuka ruang bagi rupiah untuk kembali ke bawah level Rp 17.000.
"Jika tren ini berlanjut, maka tekanan dari sisi dolar, minyak, dan sentimen risiko bisa berkurang, sehingga rupiah punya ruang untuk kembali ke bawah Rp 17.000," pungkas Josua.