Kebijakan Pemerintah menetapkan pola kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) setiap Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) memicu tantangan kesehatan fisik dan mental yang serius. Kondisi lingkungan rumah yang tidak dirancang sebagai ruang kerja fungsional menjadi penyebab utama munculnya gangguan kesehatan tersebut.
Risiko kesehatan ini mencakup nyeri otot hingga kelelahan mental akibat gangguan fokus selama bekerja, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Fani Syafani, menjelaskan bahwa modifikasi lingkungan rumah sangat diperlukan untuk memenuhi standar keselamatan kerja.
ÔÇ£Lingkungan rumah dapat dimodifikasi menjadi tempat bekerja dengan sebaiknya dapat memenuhi aspek Keselamatan Kesehatan Kerja dengan menerapkan Hirarki K3 dan memahami potensi risiko atau bahaya di area atau lingkungan rumah," kata Fani saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Penyesuaian ini meliputi penggunaan meja dan kursi yang ergonomis serta pengaturan pencahayaan ruangan yang cukup. Fani memperingatkan bahwa mengabaikan posisi duduk yang benar dapat berdampak buruk pada struktur tubuh dalam jangka waktu panjang.
ÔÇ£Dalam jangka panjang dapat menyebabkan penekanan pada otot, tulang belakang dan syaraf," kata Fani.
Selain masalah fisik, faktor lingkungan rumah juga kerap memicu tekanan psikis akibat gangguan dari aktivitas keluarga lainnya. Jika manajemen waktu dan ruang tidak dilakukan dengan tepat, produktivitas kerja dipastikan akan menurun secara bertahap.
ÔÇ£Apabila tidak dapat diantisipasi, dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan stress, akibat kurang fokus saat mengerjakan tugas sehingga target pekerjaan tidak dapat tercapai," katanya.
Fani juga menyoroti fenomena kelelahan berkepanjangan yang timbul akibat beban kerja yang tidak seimbang. Hal ini sering kali berujung pada hilangnya semangat kerja bagi para pegawai yang bertugas di rumah.
ÔÇ£Fatigue atau kelelahan menyebabkan seseorang tidak memiliki energi dan motivasi menurun," katanya.
Tantangan serupa dirasakan oleh Anita Puspa (32), seorang ASN bidang perencanaan dan keuangan, yang harus membagi konsentrasi antara tugas kantor dan mengurus anak balita setiap hari Jumat. Ia memulai pekerjaan sejak pukul 08.00 WIB, namun sering kali terhenti karena urusan domestik.
"Jam 08.00 WIB saya mulai kerja, buka laptop, cek email dan grup kantor. Tapi enggak lama biasanya sudah mulai terdistraksi, entah anak minta ditemani atau hal lain," kata Anita saat dihubungi, Selasa.
Interupsi yang terjadi sepanjang hari memaksa Anita untuk menyelesaikan pekerjaan secara bertahap. Hal ini menciptakan pola kerja yang tidak terstruktur jika dibandingkan dengan saat bekerja langsung di kantor.
ÔÇ£Jadi kerja itu putus-putus, kadang sambil nemenin dia main. Siang agak berat karena anak lagi aktif-aktifnya," kata dia.
Ketiadaan waktu yang benar-benar bebas dari gangguan di rumah diakui menjadi kendala terbesar. Kondisi ini membuat pembagian waktu kerja menjadi sangat sulit untuk dikendalikan sepenuhnya.
ÔÇ£Hampir sepanjang hari sih, terutama di jam-jam aktif anak. Bisa dibilang tidak ada satu blok waktu yang benar-benar bebas gangguan," kata Anita.
Meski tidak harus melakukan perjalanan fisik ke kantor, beban mental yang dirasakan justru meningkat secara signifikan. Hal ini diperparah dengan kewajiban mengikuti rapat daring yang tetap berjalan di tengah kesibukan rumah tangga.
ÔÇ£Secara fisik mungkin WFO, tapi secara mental saya merasa WFH lebih melelahkan karena harus bagi fokus terus," kata dia.
Kendala teknis juga menjadi beban tambahan bagi ASN lain seperti Karunia Putri (29), yang bekerja di bidang administrasi di Cileungsi. Rapat daring yang berlangsung tanpa jeda sering kali terkendala oleh kualitas jaringan internet yang buruk.
ÔÇ£WFH bisa lebih melelahkan secara mental, apalagi kalau koneksi tidak mendukung," ucap dia saat dihubungi, Selasa.
Karunia mengungkapkan bahwa masalah infrastruktur mandiri menjadi hambatan nyata dalam penyelesaian tugas harian. Ketidakstabilan koneksi sering kali menghambat kelancaran komunikasi selama koordinasi jarak jauh berlangsung.
ÔÇ£Tapi buat saya yang paling mengganggu justru masalah teknis seperti koneksi," kata dia.
Keterbatasan fasilitas di rumah memaksa pegawai untuk menggunakan perangkat pribadi secara maksimal tanpa dukungan sistem perkantoran. Karunia bahkan harus bergantung sepenuhnya pada koneksi data dari telepon seluler pribadinya.
ÔÇ£Saya kerja di kamar, pakai meja seadanya. Tapi untuk internet, saya full pakai hotspot dari HP. Tidak ada WiFi di rumah," kata dia.
Sebagai solusi, Fani Syafani menyarankan penerapan metode 20-20-20 untuk menjaga kesehatan mata dan melakukan peregangan tubuh secara berkala. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dengan anggota keluarga agar waktu kerja tetap dihormati tanpa gangguan berlebih.
ÔÇ£Batasi distraksi dengan anggota rumah tangga, komunikasikan dengan keluarga, waktu jam kerja yang tidak dapat diganggu," ujarnya.
Penerapan gaya hidup aktif melalui olahraga ringan juga menjadi kunci untuk menjaga kebugaran fisik dan mental selama bekerja dari rumah. Fani menyarankan agar pegawai segera mencari bantuan profesional jika mengalami keluhan kesehatan yang mengganggu fungsi tubuh.
ÔÇ£Memberikan waktu dalam berolahraga dan merawat diri dalam menjaga kesehatan tubuh baik secara fisik maupun psikis, apabila mengalami keluhan atau gangguan kesehatan selama bekerja dari rumah atau work from home, disarankan segera berkonsultasi ke Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi," kata Fani.