Riset Paramadina-INDEF 2026: Sektor Ojol Berhasil Serap 2,91 Juta Tenaga Kerja Terbaru

Riset Paramadina-INDEF 2026: Sektor Ojol Berhasil Serap 2,91 Juta Tenaga Kerja Terbaru
Foto: Riset Paramadina-INDEF 2026: Sektor Ojol Berhasil Serap 2,91 Juta Tenaga Kerja Terbaru. (Illustration by Pexels)

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Paramadina Public Policy Institute (PPPI) bekerjasama dengan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan data signifikan mengenai sektor transportasi daring.

Laporan yang bertajuk "Mewujudkan Ekosistem Ojek Online yang Menyejahterakan, Berkelanjutan, dan Berkeadilan" ini mengungkapkan bahwa layanan ojek online (ojol) telah berhasil menyerap 2,91 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.

Dari total jutaan pengemudi tersebut, terdapat sekitar 900 ribu orang yang masuk dalam kategori pengemudi dengan tingkat produktivitas sedang hingga tinggi.

Sementara itu, sebanyak 1,5 juta orang tercatat sebagai pengemudi yang aktif menarik penumpang minimal satu kali dalam sebulan, meski tidak masuk dalam kategori produktivitas tinggi.

Sisanya merupakan kelompok pengemudi yang memiliki frekuensi kerja lebih rendah, yakni mereka yang menarik penumpang kurang dari satu kali dalam kurun waktu satu bulan.

Besarnya angka penyerapan ini menunjukkan bahwa ojek online telah menjadi solusi lapangan kerja alternatif yang sangat mudah diakses karena hambatan masuk yang rendah.

Sektor ini pun berperan penting sebagai bantalan ekonomi bagi masyarakat perkotaan dengan keahlian rendah hingga menengah, termasuk bagi mereka yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kondisi pasar kerja formal yang seringkali terbatas membuat ojol berfungsi sebagai penyangga lapangan kerja (employment buffer) yang menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Rizal Taufikurahman, selaku Peneliti INDEF, menjelaskan dalam acara peluncuran riset di Universitas Paramadina, Jakarta, pada Rabu (3/6/2026), mengenai dampak tenaga kerja ini secara lebih rinci.

Ia memaparkan bahwa dari total 2,9 juta pengemudi yang merupakan dampak langsung, terdapat hampir 1 juta orang yang benar-benar aktif bekerja secara intensif.

Dampak Multiplier dan Penciptaan Jutaan Lapangan Kerja Tidak Langsung

Selain memberikan manfaat langsung bagi para pengemudi, riset tersebut menemukan bahwa kehadiran ojol juga memberikan dampak ekonomi tidak langsung yang sangat masif bagi Indonesia.

Tercatat ada sekitar 2,62 juta lapangan kerja baru yang tercipta sebagai efek domino dari aktivitas operasional layanan transportasi berbasis aplikasi ini.

Rincian sektor yang turut merasakan dampak positif dari ekosistem ekonomi digital ini meliputi:

  • Pekerja di sektor UMKM bidang kuliner yang melayani pesanan daring.
  • Admin pengelola pesanan serta kurir khusus toko fisik.
  • Penyedia bahan baku bagi industri makanan dan minuman.
  • Pelaku bisnis logistik mikro dan jasa pengemasan produk.
  • Tenaga profesional di bidang pemasaran digital (digital marketing).

Hal ini mengindikasikan bahwa setiap pengemudi ojol tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga membantu menghidupkan roda ekonomi di berbagai sektor industri lainnya.

Sektor perdagangan serta makanan dan minuman menjadi bidang yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari keberadaan infrastruktur transportasi digital ini.

Secara akumulasi, Rizal menyebutkan bahwa gabungan antara dampak langsung dan tidak langsung ini telah menciptakan lapangan kerja bagi 5,53 juta orang di Indonesia.

Kontribusi Signifikan Terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)

Analisis ekonomi dari tim riset menunjukkan bahwa sektor ojek online telah memberikan kontribusi tambahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional senilai Rp565 triliun.

Total kontribusi tersebut terdiri dari nilai dampak langsung sebesar Rp169 triliun serta dampak tidak langsung yang mencapai angka Rp396 triliun.

Nilai dampak tidak langsung ini mencakup aktivitas dari ojek online roda dua maupun layanan taksi daring roda empat yang digunakan masyarakat luas.

Fakta menariknya adalah lebih dari separuh kontribusi ekonomi ini justru lahir dari efek turunan yang memicu aktivitas produktif di sektor-sektor pendukung.

Berikut adalah ringkasan dampak ekonomi ojek online terhadap pertumbuhan ekonomi nasional berdasarkan riset:

Kategori Dampak Ekonomi Nilai Nominal Persentase Terhadap PDB
Dampak Langsung Sektor Ojol Rp169 Triliun 0,71 Persen
Dampak Tidak Langsung (Ojol Roda 2) Rp396 Triliun (Total) 1,13 Persen
Dampak Tidak Langsung (Taksi Online Roda 4) Termasuk di atas 0,53 Persen
Total Dampak Terhadap PDB Rp565 Triliun 2,37 Persen

Data dalam tabel tersebut menegaskan bahwa ojek online bukan sekadar layanan jasa angkut orang, melainkan pendorong efisiensi mobilitas dan akses pasar.

Nilai strategis utama dari teknologi ini terletak pada kemampuannya sebagai pengungkit aktivitas ekonomi lintas sektoral yang lebih produktif bagi masyarakat.

Meskipun dampak langsungnya terhadap pertumbuhan PDB tergolong terbatas, efek spillover atau limpahan ekonominya ke sektor UMKM sangatlah kuat.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa ekosistem ini sangat bergantung pada produktivitas ekonomi menengah-rendah yang berbasis pada tingkat konsumsi domestik.

Peningkatan Pendapatan Masyarakat dan Pengendalian Inflasi

Sektor ojek online juga terbukti mampu memperbaiki performa makroekonomi melalui jalur konsumsi rumah tangga yang lebih dinamis.

Konsumsi rumah tangga riil tercatat mengalami kenaikan paling signifikan sebesar 3,26 persen, yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan upah riil sebesar 2,37 persen.

Fenomena ini membuktikan bahwa layanan digital mempermudah masyarakat dalam menjangkau barang dan jasa sekaligus membuka peluang penghasilan baru bagi pedagang kecil.

Tak hanya itu, dampak positifnya juga merambah ke sisi produksi dan investasi dengan kenaikan PDB riil sebesar 1,66 persen.

Nilai tambah ekonomi secara keseluruhan naik 0,89 persen, sementara agregat persediaan riil nasional bertambah hingga mencapai 4,8 persen.

Efisiensi dalam sistem logistik jarak pendek yang ditawarkan ojol membantu mempercepat perputaran barang dari produsen langsung ke tangan konsumen akhir.

Kondisi ini memungkinkan para pelaku usaha untuk terus meningkatkan skala produksi karena biaya distribusi dan transaksi yang menjadi lebih kompetitif.

Kehadiran ojek online juga membantu menyerap tenaga kerja secara umum sebesar 0,22 persen sekaligus berperan menekan angka inflasi hingga 0,16 persen.

Melalui perannya sebagai mekanisme penurun biaya ekonomi (cost-reducing mechanism), ojol membantu menjaga kestabilan harga barang dan jasa di wilayah perkotaan.

Dengan demikian, sektor ini tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga menciptakan stabilitas harga yang mendukung daya beli masyarakat luas.

Artikel terkait

Rekomendasi