Tim peneliti internasional mengidentifikasi sejumlah pertanyaan riset paling mendesak terkait ekosistem gambut dunia guna menghadapi tantangan perubahan iklim. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment ini melibatkan 467 partisipan dari 54 negara, sebagaimana dilansir dari Lestari pada Senin (4/5/2026).
Kolaborasi riset di Indonesia melibatkan berbagai instansi, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Universitas Tanjungpura, Universitas Atmajaya, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), hingga Center for International Forestry Research (CIFOR).
Gusti Z Anshari, pakar gambut tropis dari Universitas Tanjungpura, memberikan penegasan mengenai urgensi pemahaman mendalam terhadap ekosistem ini dalam pernyataan resminya.
"Meski perannya sangat penting, hingga kini dunia masih kekurangan pengetahuan mendasar mengenai bagaimana ekosistem gambut merespons perubahan iklim, bagaimana memulihkannya secara efektif, serta bagaimana melindunginya tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem ini," kata Gusti Z Anshari, pakar gambut tropis dari Universitas Tanjungpura.
Penelitian dilakukan melalui survei kepada ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk memetakan tantangan di bidang ekologi, hidrologi, serta ilmu sosial. Gusti menjelaskan bahwa cakupan penelitian ini sangat luas dan mencakup berbagai tipologi gambut di seluruh dunia.
"Pertanyaan-pertanyaan terpilih mencerminkan beragam kondisi gambut, mulai dari gambut boreal, temperate, hingga tropis, termasuk hutan rawa gambut Asia Tenggara dan tundra Arktik," beber Gusti Z Anshari, pakar gambut tropis dari Universitas Tanjungpura.
Fokus utama riset ini meliputi distribusi gambut global, penentuan titik balik ekologis karbon, serta integrasi pengetahuan tradisional masyarakat adat. Selain itu, penggunaan teknologi kecerdasan buatan dan penginderaan jauh turut disoroti sebagai alat penguat sistem pemantauan.
Data menunjukkan bahwa lahan gambut hanya mencakup tiga persen daratan bumi, namun menyimpan karbon lebih besar dibandingkan seluruh hutan dunia. Kondisi gambut yang rusak akibat alih fungsi lahan atau kebakaran dapat melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah masif.
Nisa Novita, Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim YKAN, menyebutkan bahwa penguatan keberlanjutan sistem pemantauan merupakan tantangan besar bagi Indonesia yang memiliki lahan gambut tropis terluas.
"Kegiatan kami mencakup penggunaan metode closed chamber, pemasangan alat pemantauan fluks gas karbon dengan metode Eddy Covariance, serta restorasi gambut melalui pembangunan sekat kanal, pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis masyarakat, dan penanaman kembali," papar Nisa Novita, Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim YKAN.
Peningkatan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) menjadi prioritas YKAN, terutama di wilayah Kalimantan Barat. Nisa menekankan bahwa akurasi data merupakan landasan utama dalam pengambilan kebijakan lingkungan yang efektif.
"Data yang kuat dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar restorasi gambut benar-benar berdampak pada penurunan emisi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," tutur Nisa Novita, Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim YKAN.