Ribuan peserta memadati Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, untuk mengikuti seleksi program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) bagi Koperasi Desa Merah Putih pada Rabu (20/5/2026).
Ujian tersebut diselenggarakan guna menyaring puluhan ribu tenaga penggerak yang akan ditempatkan di tingkat desa maupun kelurahan. Dilansir dari Megapolitan, ketatnya persaingan terlihat dari jumlah pendaftar nasional yang mencapai kisaran 101.000 orang, sementara formasi yang tersedia hanya untuk sekitar 32.000 peserta melalui sistem perangkingan nasional.
Salah satu tahapan yang paling menarik perhatian para pelamar adalah tes kesehatan jiwa, di mana mereka dituntut menyelesaikan ratusan soal dalam durasi yang terbatas. Sebelum memasuki tahapan ini, para peserta telah lebih dulu dinyatakan lolos dari seleksi administrasi, Computer Assisted Test (CAT), hingga tes mental ideologi.
Afiful Haidar (25), salah satu peserta asal Kecamatan Tapos, Depok, menyampaikan bahwa proses evaluasi kejiwaan tersebut menuntut konsentrasi yang sangat tinggi.
"Tes kesehatan jiwa itu yang paling menguras tenaga. Soalnya ada 567 dan waktunya sekitar tiga jam," ujar Haidar.
Alumnus Sarjana Pendidikan Matematika tersebut memilih tetap bertahan melewati seluruh rangkaian ujian demi mendapatkan pekerjaan yang memiliki penghasilan stabil. Tekanan ekonomi sebagai anak sulung memotivasi dirinya untuk mencari peluang kerja di luar bidang keguruan formal formal yang dinilainya belum memberikan upah memadai.
"Saya berharap program ini bisa mengembangkan potensi dan penghasilan. Dan saya bisa jadi sarjana penggerak yang punya dampak nyata di desa ataupun kelurahan," kata Haidar.
Perjuangan untuk mengikuti seleksi ini juga membutuhkan pengorbanan fisik yang tidak mudah bagi para peserta. Demi mencapai lokasi ujian tepat waktu, Haidar bahkan sudah melakukan perjalanan dari rumahnya di Depok sejak fajar.
"Menurut saya, gaji guru di Indonesia saat ini masih kurang. Sementara tanggungan saya sebagai anak pertama itu luar biasa," ujar Haidar.
Kondisi fisik yang kurang beristirahat sempat dialami olehnya sebelum pelaksanaan tes dimulai di stadion. Kendati demikian, antusiasme untuk mengamankan formasi dalam program berskala nasional ini tetap menjadi prioritas utama.
"Saya berangkat jam lima pagi dari rumah. Tadi cuma minum air aja, sama enggak bisa tidur pas malamnya," ucap Haidar.