Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. dr. Ova Emilia menilai program studi yang dianggap kurang relevan sebenarnya terus beradaptasi demi memenuhi kebutuhan industri, masyarakat, keberlanjutan, serta pengembangan keilmuan.
Pernyataan tersebut disampaikan dilansir dari Media Indonesia dalam pidato wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun 2026 di Grha Sabha Pramana pada Rabu (20/5).
Berdasarkan data QS WUR by subject, terdapat 28 bidang ilmu UGM yang masuk pemeringkatan, dengan tiga prodi sosial humaniora menembus top 100 besar dunia, yakni Theology di peringkat 45 besar, serta Anthropology dan Development Studies.
"Penguatan pada bidang-bidang tersebut mencerminkan kualitas keilmuan UGM yang semakin diakui secara global dan menunjukkan bahwa pengembangan akademik dilakukan secara terarah dan berkelanjutan," kata Ova Emilia.
Ia menambahkan bahwa pengembangan akademik di UGM dilakukan secara menyeluruh, termasuk lewat penguatan sektor sosial humaniora demi menghadirkan keadilan sosial.
"Pendidikan berperan sebagai ruang pembebasan yang menghadirkan keadilan dan kemajuan bagi masyarakat, karena kebutuhan manusia tidak selalu diukur dari kebutuhan industri semata, melainkan juga kebutuhan kehidupan itu sendiri," ungkap Ova Emilia.
Ova Emilia juga menekankan pentingnya membentuk lulusan yang berintegritas, berpikir kritis, dan berkarakter moral unggul melalui berbagai pengalaman pembelajaran kolaboratif, penelitian, dan KKN-PPM.
"Menjadi lulusan UGM bukan sekadar mengantongi ijazah, tetapi menjadi pribadi yang memiliki karakter moral unggul serta mampu memberi dampak bagi kehidupan masyarakat," ujar Ova Emilia.
Tantangan dunia kerja yang kompetitif di tengah situasi ekonomi yang sulit turut disoroti oleh Dewan Pakar Pengurus Pusat KAGAMA, Anies Baswedan, yang mengajak wisudawan menghadapinya dengan ketahanan diri.
"Generasi yang lulus di masa sulit sering kali menjadi generasi yang paling kuat karena mereka belajar bertahan, belajar membaca keadaan, dan belajar tumbuh di tengah keterbatasan," tutur Anies Baswedan.
Anies Baswedan juga mengingatkan para lulusan baru mengenai pentingnya menjaga integritas dan tanggung jawab melalui keputusan-keputusan kecil dalam pekerjaan pertama mereka.
"Jangan menunggu pekerjaan sempurna untuk memberikan yang terbaik, karena masa depan sering kali dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dikerjakan dengan penuh tanggung jawab," kata Anies Baswedan.
Di sisi lain, perwakilan wisudawan dari Fakultas Peternakan, Siham Hamda Zaula, membagikan kisah inspiratifnya dalam melewati dinamika perkuliahan sebagai penyandang disabilitas autisme.
"Hari ini saya belajar bahwa menjadi disabilitas bukan berarti tidak mampu, karena setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing," ungkap Siham Hamda Zaula.
Siham Hamda Zaula mengapresiasi dukungan dari dosen, keluarga, serta Unit Layanan Disabilitas UGM, sekaligus mengajak para lulusan untuk aktif menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif.
"Saya berharap kita semua mampu membangun masa depan yang memberi ruang aman bagi siapa pun yang merasa berbeda, karena perbedaan adalah kekuatan," ungkap Siham Hamda Zaula.